Sebuah stereotip karir yang menganggap profesi “3C” (Cameraman, Creator, Cook) tidak stabil, kini memicu krisis pernikahan di Jepang. Pria seperti Hiroshi (32), seorang fotografer, dan Taro (29), seorang bartender, mengalami penolakan ekstrem di aplikasi kencan akibat prasangka profesi ini.
Hiroshi ditolak karena calon pasangan khawatir ia menghabiskan waktu dengan model, sementara Taro dianggap tidak stabil karena bekerja lembur. Studi O-neeto mencatat 60 persen wanita menghindari pria dengan stereotip karir ‘3C’, yang memiliki tingkat kegagalan kencan mencapai 78 persen.
Prasangka sosial ini berdampak langsung pada demografi Jepang, dengan Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 40 persen anak muda di bawah 30 tahun belum pernah berkencan. Angka pernikahan nasional pada 2023 bahkan anjlok di bawah 500.000, level terendah sejak tahun 1930-an.
Fenomena ini, menurut para sosiolog, menunjukkan pergeseran nilai yang ironis di masyarakat modern Jepang yang seharusnya lebih terbuka terhadap ekonomi kreatif. Prasangka terhadap stereotip karir ‘3C’ membuktikan bahwa stabilitas finansial ala pekerja kantoran masih menjadi standar usang yang menghalangi mobilitas sosial dan personal para pekerja non-tradisional, katanya.
Ekonom Takashi Kadokura mendesak adanya edukasi publik untuk mengubah persepsi usang tersebut. Ia mengatakan kampanye media harus mendorong wanita menilai pasangan berdasarkan karakter dan tujuan bersama, bukan semata-mata profesi atau pendapatan.
Sosiolog Kumiko Nemoto menambahkan perusahaan Jepang harus mengurangi jam kerja yang ekstrem agar pria punya waktu membangun hubungan. “Pria perlu didukung untuk menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan, cuti fleksibel dan pekerjaan jarak jauh untuk membantu mereka menjadi lebih menarik,” katanya. Tanpa perubahan budaya kerja dan pergeseran stigma sosial, krisis pernikahan di Jepang yang dipicu oleh stereotip karir ‘3C’ ini akan semakin sulit diatasi.






