Gambar terbaru komet 3I/ATLAS yang ditangkap dari Mars oleh kamera NASA menimbulkan kehebohan di kalangan astronom dan publik. Sosok komet yang tampak memanjang dalam foto tersebut sempat memicu spekulasi liar tentang kemungkinan asal buatan. Namun, astrofisikawan Harvard Avi Loeb memberikan penjelasan ilmiah yang membantah dugaan itu, menegaskan bahwa bentuk yang tampak bukanlah bentuk asli dari objek tersebut.
Dalam penjelasannya melalui blog pribadi, Loeb menyebut distorsi visual itu disebabkan oleh kecepatan ekstrem 3I/ATLAS, yang melaju sekitar 200.000 kilometer per jam, serta proses penggabungan ratusan foto menjadi satu komposisi. “Garis dalam gambar Navcam pasti hasil dari akumulasi ratusan gambar selama interval total sekitar 10 menit,” tulisnya. Menurut Loeb, jika difoto dalam satu jepretan saja, komet itu akan tampak seperti noda melingkar sederhana, bukan objek memanjang seperti yang terlihat di hasil akhir.
Kamera HiRISE milik Mars Reconnaissance Orbiter, lanjut Loeb, berhasil menangkap foto resolusi tinggi komet tersebut pada 3 Oktober 2025. “Piksel paling terang dari gambar HiRISE akan memberikan delimitasi terbaik hingga saat ini dari area 3I/ATLAS. Kami mengharapkan tim HiRISE untuk mempublikasikan gambar mereka sesegera mungkin,” tulisnya.
Sayangnya, hingga kini NASA belum mengeluarkan pernyataan resmi, karena aktivitas lembaga tersebut masih terganggu akibat penutupan sementara pemerintah federal AS. Di situs resminya, NASA hanya mencantumkan keterangan singkat: “Karena kurangnya pendanaan pemerintah federal, NASA tidak memperbarui situs web ini.”
3I/ATLAS sendiri pertama kali ditemukan pada 1 Juli 2025 oleh teleskop robotik di Chili dan menjadi objek antarbintang ketiga yang pernah terdeteksi setelah ‘Oumuamua (2017) dan Borisov (2019). Sejak penemuannya, komet ini menarik perhatian besar karena perilakunya yang tidak biasa dan kecerahan yang meningkat hingga 40 kali lipat.
Avi Loeb, yang dikenal karena teori-teori beraninya tentang kemungkinan keberadaan teknologi luar angkasa, menyebut lintasan 3I/ATLAS sangat menarik. Ia menjelaskan bahwa jalur orbit komet tersebut bertepatan dengan bidang ekliptika, yaitu bidang di mana planet-planet Tata Surya beredar. Kondisi ini dinilai tidak biasa untuk objek alami dari ruang antarbintang. Lebih jauh lagi, 3I/ATLAS diketahui berasal dari arah konstelasi Sagitarius, yang kebetulan juga merupakan sumber sinyal radio misterius “Wow!” yang tercatat pada tahun 1977.
Meski demikian, Loeb memastikan bahwa komet ini tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi, karena saat melintas terdekat, Matahari berada di antara kedua benda langit tersebut. Ia menilai perjalanan 3I/ATLAS merupakan peluang berharga bagi ilmuwan untuk memahami lebih dalam karakteristik benda langit yang berasal dari sistem bintang lain.
Berdasarkan perhitungan, 3I/ATLAS melaju dengan kecepatan 58 km/detik (208.800 km/jam) dalam orbit hiperbolik, menjadikannya objek antarbintang tercepat yang pernah terdeteksi. Komet ini akan mencapai titik terdekatnya dengan Matahari (perihelion) pada 29 Oktober 2025, melintas sejauh 1,36 unit astronomi (AU) — jarak antara orbit Bumi dan Mars. Setelah itu, gaya dorong Matahari akan mengusirnya kembali ke ruang antarbintang, di mana ia akan menghilang dari pandangan manusia untuk selamanya.
Fenomena ini diperkirakan tidak akan terlihat jelas dari Bumi selama Oktober karena posisi komet terlalu dekat dengan cahaya Matahari. Namun, pada awal Desember 2025, 3I/ATLAS diprediksi akan muncul kembali di langit malam sebelum melanjutkan perjalanannya meninggalkan Tata Surya.
Misteri 3I/ATLAS memang belum sepenuhnya terpecahkan, tetapi penjelasan Avi Loeb menegaskan satu hal penting: apa yang tampak luar biasa di permukaan sering kali memiliki jawaban ilmiah yang menakjubkan di baliknya.






