Pasar tenaga kerja AS yang melemah membuat banyak pekerja Amerika khawatir dan terpaksa menerima pemotongan gaji untuk mempertahankan pekerjaan mereka. Menurut survei TopResume, 75 persen pekerja terampil AS bersedia menerima upah lebih rendah, sementara 70 persen bersedia menerima posisi lebih rendah.
Kecemasan ini dipicu oleh situasi suram pasar tenaga kerja AS, di mana jumlah lowongan menurun drastis pasca-booming Covid-19 dan PHK meningkat. Laporan itu mencatat 66 persen responden kini masuk kategori “career cushioning”, atau bertahan demi keamanan finansial daripada mencari kepuasan kerja.
Mikki Hebl, profesor psikologi kerja dari Rice University, mengatakan perubahan ini didorong oleh perlambatan pertumbuhan pekerjaan baru, inflasi tinggi, dan peran AI. “Laju pertumbuhan pekerjaan baru melambat… yang semuanya membuat orang berpikir bahwa ada pekerjaan lebih dari sekadar pengangguran,” jelas Hebl.
Fenomena penerimaan pemotongan gaji ini, menurut Hebl, secara efektif mengubah dinamika pasar dari seller’s market (pekerja) menjadi buyer’s market (pemberi kerja). Perusahaan kini memiliki daya tawar lebih besar untuk menekan biaya tenaga kerja, yang dapat berdampak pada perlambatan konsumsi domestik dalam jangka panjang, katanya.
Amanda Augustine, pakar karir TopResume, memperingatkan risiko jangka panjang dari strategi bertahan ini, termasuk kehilangan momentum pengembangan keterampilan. “Downstage juga bisa menjadi loop, pengusaha mungkin berasumsi bahwa posisi saat ini mencerminkan ‘kepahaman’ kandidat,” kata Amanda Augustine.
Namun, di sisi lain, fenomena pekerja Amerika yang menerima pemotongan gaji ini juga mencerminkan pergeseran nilai pasca-pandemi. Bagi sebagian pekerja, keseimbangan hidup dan kesehatan mental kini menjadi prioritas yang lebih penting daripada sekadar mengejar jenjang karir dan pendapatan yang lebih tinggi.






