Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China kembali memanas setelah Beijing mempercepat pembatasan ekspor tanah jarang (rare earth) komoditas penting bagi industri pertahanan dan teknologi tinggi dunia. Langkah itu segera dibalas oleh Presiden AS Donald Trump, yang mengumumkan kenaikan tarif impor hingga 100 persen terhadap produk asal China, sekaligus mengisyaratkan kemungkinan pembatalan pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping pada akhir bulan ini.
Kementerian Perdagangan China pada 12 Oktober menegaskan bahwa kebijakan pengendalian ekspor tersebut “sah dan berdampak terbatas” pada pasokan global. Pemerintah China menilai langkah itu perlu untuk menjaga stabilitas nasional, mengingat mineral tersebut juga digunakan untuk kebutuhan militer. Beijing bahkan menuduh Washington menerapkan “standar ganda” karena kebijakan ekonomi AS dinilai sering merugikan bisnis China.
Namun, bagi banyak pengamat, kebijakan China ini bukan hal baru. Dalam dua tahun terakhir, negara itu secara bertahap memperketat ekspor dan membangun posisi dominan di pasar global. Saat ini, China mengendalikan sekitar 90 persen produksi tanah jarang olahan dan magnet di dunia, menempatkannya sebagai pemasok utama untuk berbagai industri strategis.
Langkah pembatasan ekspor terbaru diumumkan 9 Oktober, mencakup lima elemen penting — holmium, erbium, thulium, europium, dan ytterbium — beserta bahan magnet terkait. Dengan kebijakan baru ini, total elemen tanah jarang yang dikontrol ekspornya menjadi 12 jenis. Setiap perusahaan kini diwajibkan mengantongi izin lisensi ekspor, termasuk untuk teknologi pemurnian mineral.
Langkah itu dilakukan hanya sehari setelah sejumlah anggota parlemen AS menyerukan perpanjangan larangan ekspor peralatan chip ke China, menambah ketegangan menjelang pertemuan bilateral di KTT APEC Korea Selatan. Analis menilai kebijakan China adalah bentuk tekanan geopolitik menjelang pertemuan tersebut.
Tanah jarang, yang terdiri dari 17 elemen penting, berperan besar dalam industri kendaraan listrik, mesin pesawat, MRI, serta sistem radar dan senjata seperti F-35, rudal Tomahawk, dan satelit militer. Menurut laporan Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), hampir seluruh perangkat militer canggih dunia bergantung pada bahan ini.
Meski disebut “langka”, mineral tersebut sejatinya melimpah di kerak bumi. US Geological Survey (USGS) mencatat terdapat 110 juta ton cadangan global, dengan 44 juta ton berada di China. Namun, proses penambangan dan pemurniannya rumit serta berisiko tinggi bagi lingkungan, membuat banyak negara enggan melakukannya.
Direktur Program Keamanan Mineral Strategis CSIS, Gracelin Baskaran, mengungkapkan bahwa AS masih harus mengirim tanah jarang berat dari California ke China untuk diekstraksi. “Kita masih sangat bergantung pada Beijing,” ujarnya kepada CNN. AS saat ini hanya memiliki satu tambang aktif di California.
Pada April lalu, China sempat memperketat ekspor untuk pertama kalinya tahun ini, sebagai respons terhadap “pajak timbal balik” yang diberlakukan Trump. Walau kedua negara sempat mencapai kesepakatan di Jenewa pada Mei, Beijing tak melonggarkan kendalinya. Ketika ekspor sempat meningkat beberapa bulan terakhir, sejumlah pelanggan industri tetap mengeluhkan kesulitan memperoleh pasokan.
Trump menilai kebijakan China sebagai langkah bermusuhan. Dalam unggahan di Truth Social, ia menulis bahwa Beijing telah “melanggar perjanjian” dengan tetap mempertahankan kontrol atas tujuh elemen tanah jarang. “China menjadi semakin tidak ramah dengan mengirim surat ke berbagai negara, mengancam akan memperluas kontrol ekspor,” tulisnya.
Sebagai balasan, Trump menegaskan akan menempuh langkah finansial keras. “Jika mereka memiliki satu elemen, kita akan punya dua,” katanya, menegaskan niat AS untuk menggandakan produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap China.
Para analis memperingatkan bahwa kebijakan ekspor China dapat menjadi senjata ekonomi baru dalam perang dagang global. Dengan pasokan dunia yang sebagian besar bergantung pada Beijing, keputusan tersebut berpotensi mengguncang rantai pasokan industri pertahanan dan teknologi tinggi di seluruh dunia.






