Brasil tengah mengambil langkah luar biasa untuk menghadapi wabah demam berdarah terburuk dalam sejarahnya. Negara itu kini memproduksi hingga 300 juta telur nyamuk per minggu, hasil dari proyek bioteknologi masif yang dikembangkan untuk menekan penyebaran penyakit tersebut.
Langkah strategis ini ditandai dengan peresmian fasilitas pembiakan nyamuk di Campinas, Sao Paolo, pada 12 Oktober. Pabrik seluas 1.300 meter persegi itu mampu menghasilkan 190 juta telur nyamuk setiap minggu, melengkapi pabrik pertama di Curitiba yang telah beroperasi sejak Juli dengan kapasitas 100 juta telur.
“Saya pikir sinergi itu bagus. Ini bukan kompetisi, tapi resonansi,” ujar Fabiano Pimenta, Wakil Sekretaris Jenderal Sekretariat Pemantauan Kesehatan dan Lingkungan. “Pada bulan Juli, Wolbito dibuka dan merupakan pabrik terbesar di dunia. Dua bulan kemudian, itu bukan yang terbesar lagi. Ini sangat baik untuk kesehatan masyarakat Brasil,” tambahnya.
Di fasilitas ini, nyamuk Aedes aegypti dibudidayakan dengan teknologi bakteri Wolbachia metode yang terbukti secara ilmiah mampu menghambat virus penyebab demam berdarah, Zika, dan Chikungunya agar tidak lagi menular ke manusia.
Upaya ini menjadi krusial bagi Brasil yang kini menghadapi krisis kesehatan serius. WHO mencatat bahwa pada tahun 2024, lebih dari 80 persen kasus demam berdarah global berasal dari negara tersebut, dengan lebih dari 6.000 kematian sepanjang tahun itu.
Menurut laporan CNN, produksi nyamuk di pabrik dikontrol ketat. Larva dipelihara di ribuan nampan air bersuhu stabil hingga menetas. Nyamuk jantan diberi larutan gula, sementara betina mengisap darah hewan melalui kantong khusus yang menyerupai kulit manusia agar bisa bereproduksi. Setelah empat minggu, jutaan nyamuk pembawa Wolbachia dilepaskan ke alam untuk berkembang biak dengan populasi liar, sehingga bakteri menular ke generasi berikutnya.
“Wilayah pelepasan nyamuk dipilih berdasarkan tingkat kasus tertinggi. Mikroarea dengan jumlah penderita demam berdarah paling banyak menjadi prioritas,” kata Tamila Kleine, koordinator regional Wolbito do Brasil.
Menurut Kementerian Kesehatan Brasil, metode ini telah melindungi lebih dari 5 juta orang di delapan kota sejak 2014. “Bakteri Wolbachia hanya hidup di dalam sel serangga dan akan mati ketika inangnya mati,” jelas Antonio Brandao, Manajer Produksi Wolbito do Brasil. “Bakteri ini telah ada di lebih dari 60 persen serangga di alam liar selama berabad-abad, tanpa pernah berinteraksi dengan manusia,” tambahnya.
Namun, Brandao menegaskan, teknologi saja tidak cukup. “Orang-orang tetap harus bertanggung jawab membersihkan lingkungan. Cukup lima menit setiap minggu untuk memeriksa genangan air di rumah. Itu cara terbaik menyingkirkan wabah,” katanya.






