Anggota DPRD Kota Bandung, Nina Fitriana Sutadi, S.IP., M.IP., menegaskan pentingnya perluasan program pemberdayaan pemuda di Kota Bandung. Hal itu disampaikan saat menghadiri Creative Fest 2025 yang digelar oleh Youth Space Bandung Wetan di Jalan Kebon Bibit, Kelurahan Tamansari, Sabtu (4/10/2025).
Dalam kegiatan yang mengusung tema “Inovasi Jadi Aksi: Peran Pemuda dalam Perubahan Sosial dan Lingkungan” itu, Nina menyampaikan apresiasi atas inisiatif para pemuda Bandung yang terus menciptakan ruang kreatif dan kolaboratif. Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi bukti nyata bahwa semangat generasi muda untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa masih sangat tinggi.
Ia menekankan bahwa semangat inovasi pemuda tidak boleh berhenti di tataran ide atau slogan semata. “Kegiatan ini jangan hanya menjadi seremonial. Pemuda harus membuktikan perannya dalam menghadirkan perubahan dan kemajuan yang nyata,” ujar Nina.
Mengutip pesan Bung Karno, Nina mengingatkan kembali kekuatan besar yang dimiliki generasi muda. “Bung Karno pernah berkata, berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia. Itu menunjukkan betapa penting dan strategisnya peran pemuda dalam membangun bangsa,” tambahnya.
Lebih lanjut, Nina menyoroti momentum bonus demografi yang tengah dimiliki Indonesia, khususnya di Kota Bandung. Menurutnya, jumlah generasi muda yang besar seharusnya menjadi kekuatan produktif untuk membantu pemerintah menyelesaikan berbagai persoalan sosial di masyarakat.
“Pemuda harus dilibatkan secara aktif. Jangan hanya menjadi penonton, tapi juga pelaku dalam proses pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan,” ucapnya.
Untuk mendukung hal tersebut, Nina mendorong agar Pemerintah Kota Bandung memperluas berbagai program pemberdayaan pemuda. Ia menilai, penguatan kapasitas dan pemberian ruang partisipasi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar potensi generasi muda tidak terbuang percuma.
Selain itu, Nina menyoroti program inovatif Pemkot Bandung yang kembali mengoptimalkan sistem LACI RW (Layanan Aspirasi dan Catatan Informasi Rukun Warga). Ia menyebut sistem ini sebagai salah satu langkah konkret dalam menjaring data sosial di tingkat akar rumput.
“Melalui LACI RW, para pemuda dapat ikut serta dalam pengumpulan dan pengolahan data masyarakat, sehingga pemerintah memiliki dasar kuat dalam merancang program strategis yang lebih tepat sasaran,” jelasnya.
Ia menilai, data yang dihasilkan dari inovasi tersebut sangat penting untuk menyusun kebijakan publik yang efektif. Dengan begitu, setiap program pemerintah tidak hanya bersifat sementara, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan warga.
“Jangan sampai program pembangunan hanya asal jalan tanpa melihat kebutuhan riil masyarakat. Dengan data akurat dari lapangan, kebijakan bisa lebih terukur dan berdampak langsung,” ujarnya menegaskan.
Nina juga mengingatkan agar pelibatan pemuda dalam berbagai program pemerintah dilakukan secara terstruktur dan masif. Ia meyakini, dengan sistem yang baik dan dukungan kebijakan yang konsisten, generasi muda Bandung dapat menjadi motor penggerak perubahan.
Menurutnya, pembangunan kota yang berkelanjutan tidak bisa dilepaskan dari peran aktif pemuda. Mereka bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga penggagas dan pelaksana pembangunan di tingkat komunitas.
“Pemuda adalah subjek pembangunan, bukan objek. Mereka harus diberi ruang untuk berinisiatif dan berinovasi,” tutur Nina.
Ia juga berharap agar hasil dari berbagai program yang dijalankan bisa menjadi warisan pembangunan jangka panjang. “Apa yang kita lakukan hari ini bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk generasi berikutnya,” tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Nina mengajak semua pihak untuk mendukung pemberdayaan pemuda di Kota Bandung. Ia percaya, jika generasi muda diberi kepercayaan dan kesempatan, mereka akan menjadi kekuatan besar yang membawa perubahan positif bagi kota.
“Sudah saatnya kita memperluas program yang melibatkan anak muda. Mereka punya semangat, kreativitas, dan energi besar untuk membawa Bandung ke arah yang lebih baik,” pungkasnya.






