Menteri Pertanian Amran Sulaiman pada Selasa, 21 Oktober 2025, mengungkapkan bahwa 30 ribu ton cadangan beras pemerintah (CBP) mengalami kerusakan saat tersimpan di gudang Perusahaan Umum Bulog. Berbicara dalam acara “Town Hall Meeting Satu Tahun Kemenko Pangan” di Graha Mandiri, Jakarta, Amran menjelaskan kondisi ini sebagai paradoks: “Dulu tidak rusak karena berasnya tidak ada, Pak. Sekarang rusak karena melimpah berasnya.”
Ia menuturkan, saat ini Bulog mengelola sekitar 4,2 juta ton cadangan beras, sebuah volume yang disebutnya sebagai yang terbanyak dalam sejarah Indonesia merdeka. Jumlah ini menandai sebuah pencapaian signifikan dalam upaya ketahanan pangan nasional.
Pada awal tahun ini, Presiden Prabowo Subianto, melalui Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2025, telah menugaskan Bulog untuk menyerap beras sebanyak 3 juta ton dari petani. Hingga tanggal 15 Oktober 2025, Bulog berhasil melampaui target tersebut dengan menyerap 3,13 juta ton beras. Meski demikian, Amran menjelaskan bahwa dalam realisasinya, Bulog hanya menyerap sekitar 8 persen dari total beras di pasar, sementara mayoritas atau 92 persen beras diserap oleh perusahaan swasta.
Fenomena melimpahnya cadangan beras yang menyebabkan kerusakan ini, jika dilihat dari sudut pandang kebijakan pangan, menjadi sebuah paradoks: di satu sisi merefleksikan keberhasilan besar dalam produksi nasional hingga mencapai swasembada, namun di sisi lain menimbulkan persoalan manajerial terkait penyimpanan. Menteri Amran sendiri sebelumnya telah menyoroti bahwa dominasi penyerapan oleh sektor swasta, meskipun menunjukkan kekuatan pasar, turut memberi tantangan tersendiri bagi Bulog untuk menjaga keseimbangan stok dan memastikan cadangan strategis tetap terjaga kualitasnya di tengah surplus.
Peningkatan produksi beras nasional ini juga mendapat sorotan dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), yang menyatakan Indonesia mencatat pertumbuhan produksi terbesar kedua di dunia. Amran bahkan optimistis, “Sebentar lagi nomor satu,” mengindikasikan prospek cerah bagi sektor pertanian Indonesia.
Sejalan dengan optimisme tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa Indonesia tidak akan mengimpor beras hingga Desember 2025. Zulhas—begitu ia akrab disapa—menyoroti perbandingan signifikan dengan tahun sebelumnya, di mana Indonesia masih mengimpor sebanyak 4,5 juta ton beras. Dengan nihilnya impor komoditas pangan pokok tersebut, Zulhas dengan bangga menyatakan Indonesia kini telah mencapai swasembada beras.
Zulhas juga menambahkan bahwa capaian produksi beras nasional yang membanggakan ini didukung oleh sejumlah faktor kunci, termasuk luas lahan sawah yang mencapai 7,4 juta hektare, program pengairan yang efektif, serta program pemupukan yang terarah dan berkelanjutan.






