Ekonomi Terancam? LPEM UI Pangkas Proyeksi Pertumbuhan!

Avatar photo

- Penulis Berita

Selasa, 4 November 2025 - 07:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2025 akan berada di kisaran 4,86 hingga 4,90 persen. Proyeksi ini sedikit lebih rendah dari pencapaian kuartal sebelumnya, yang dilaporkan mencapai 5,12 persen secara tahunan. Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memiliki pandangan yang lebih optimistis, memperkirakan ekonomi triwulan ketiga tetap akan tumbuh di atas 5 persen.

Secara lebih rinci, LPEM FEB UI memperkirakan pertumbuhan kuartal III tahun ini hanya akan menyentuh 4,88 persen secara tahunan. Angka ini menandakan penurunan dari kinerja kuartal II 2025 yang sempat mengejutkan pasar dengan pertumbuhan 5,12 persen. Untuk proyeksi ekonomi sepanjang tahun 2025, LPEM UI menetapkan angka 4,95 persen.

Ekonom LPEM UI, Teuku Riefky, dalam laporan Seri Analisis Makroekonomi Indonesian Economic Outlook 2006 yang dirilis pada Senin, 3 November 2025, menuturkan, “Meski angka pertumbuhan di kuartal II 2025 cukup mengejutkan, kami tetap berpandangan bahwa pertumbuhan Indonesia belum berkualitas dan masih mungkin tumbuh di bawah 5 persen, setidaknya untuk tahun ini.” Ia juga menyoroti fakta bahwa pertumbuhan kuartal II sebesar 5,12 persen itu meningkat signifikan dibandingkan kuartal I 2025 yang hanya 4,87 persen.

Baca Juga :  BEI Ungkap Daftar Capaian Gemilang Tahun Ini!

Analisis mendalam dari LPEM UI mengungkap bahwa angka pertumbuhan yang menonjol pada kuartal kedua tersebut, meskipun tampak impresif di permukaan, justru menyembunyikan beberapa kerentanan fundamental. Mereka mengamati, lonjakan pertumbuhan itu seakan tidak selaras dengan indikator makroekonomi dan mikro yang lebih luas, di mana banyak data justru menunjuk pada melemahnya daya beli masyarakat serta perlambatan nyata dalam aktivitas produksi. Kondisi ini lantas memunculkan dugaan kuat bahwa pendorong utama pertumbuhan sesungguhnya berasal dari intervensi kebijakan dan stimulus jangka pendek, ketimbang perbaikan struktural yang berkelanjutan, sebuah aspek yang memerlukan perhatian serius untuk ketahanan ekonomi jangka panjang.

LPEM UI menilai, pertumbuhan ekonomi yang dilaporkan Badan Pusat Statistik pada kuartal II tersebut menunjukkan beberapa inkonsistensi dan anomali. Oleh karena itu, Riefky menegaskan, angka pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 perlu ditafsirkan secara hati-hati. Ia menjelaskan, angka-angka utama tersebut berpotensi melebih-lebihkan kekuatan fundamental ekonomi, sebab sebagian besar pertumbuhan ekonomi baru-baru ini masih didorong oleh intervensi kebijakan dan stimulus jangka pendek, alih-alih perbaikan struktural.

Baca Juga :  Buyback Emas Antam Melonjak! Ini Waktu yang Tepat untuk Jual?

Prospek ekonomi makro Indonesia pada 2025, menurut LPEM UI, terus menghadapi tantangan signifikan. Hal ini dipengaruhi oleh daya beli rumah tangga yang lesu, investasi swasta yang terbatas, serta meningkatnya tekanan belanja politik secara kolektif. Riefky mengimbuhkan, “Munculnya dan meluasnya berbagai program populis, meskipun secara politis menguntungkan, telah menambah beban fiskal di saat kondisi eksternal sudah buruk.”

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III sedikit lebih rendah dari triwulan sebelumnya. Pertumbuhan yang sedikit melambat diduga imbas demonstrasi yang terjadi pada akhir Agustus lalu. Namun demikian, Bendahara Negara itu optimistis ekonomi kuartal III masih akan tumbuh di atas 5 persen.

Setelah bertemu dengan pimpinan BPS di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, pada 28 Oktober 2025, Purbaya menyampaikan, “(Prediksi triwulan III) sedikit di atas 5. Mungkin lebih rendah sedikit, karena ada ribut-ribut.” Ia juga meyakini bahwa ekonomi Indonesia akan berbalik tumbuh melesat hingga 5,5 persen pada kuartal keempat 2025.

Berita Terkait

Banding FAM Ditolak FIFA: Pengacara Top Pun Terkejut!
LQ45: Analisis Harga, Kinerja, dan Rekomendasi Saham Terbaru
Buyback Emas Antam Melonjak! Ini Waktu yang Tepat untuk Jual?
Laba Telkom Anjlok! Analis Ungkap Peluang Investasi TLKM
Emas Tertekan: The Fed Bikin Harga Emas Goyah?
Likuiditas BI Mengalir: Inflasi Mengintai?
Likuiditas BI & Purbaya: Inflasi Mengintai?
Liverpool Era Slot: 3 Fakta Pahit yang Mengkhawatirkan Fans

Berita Terkait

Selasa, 4 November 2025 - 07:37 WIB

Ekonomi Terancam? LPEM UI Pangkas Proyeksi Pertumbuhan!

Selasa, 4 November 2025 - 01:21 WIB

Banding FAM Ditolak FIFA: Pengacara Top Pun Terkejut!

Senin, 3 November 2025 - 00:48 WIB

LQ45: Analisis Harga, Kinerja, dan Rekomendasi Saham Terbaru

Minggu, 2 November 2025 - 05:40 WIB

Buyback Emas Antam Melonjak! Ini Waktu yang Tepat untuk Jual?

Sabtu, 1 November 2025 - 09:37 WIB

Laba Telkom Anjlok! Analis Ungkap Peluang Investasi TLKM

Berita Terbaru

Warning! This link is a trap for bad bots! Do not follow this link or you're IP adress will be banned from the site!