Semangat muda dan kepemimpinan inspiratif kembali mewarnai panggung malam final Duta Pemuda dan Olahraga (Duta Pora) DKI Jakarta 2025 yang digelar di La Piazza, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (3/10/2025).
Dari 32 finalis terbaik, dua nama akhirnya menonjol di antara sorotan: Ashjabbar Uliandi Putra dan Niwa Parahita Wardana, yang dinobatkan sebagai Duta Pora DKI Jakarta tahun ini.
Keduanya dinilai berhasil memadukan kecerdasan, jiwa sosial, dan kemampuan komunikasi publik yang kuat kualitas yang merepresentasikan wajah baru generasi muda ibu kota.
Menurut Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta Andri Yansyah, Duta Pora bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan wadah untuk melahirkan agen perubahan.
Ia menegaskan, figur yang terpilih diharapkan mampu membawa semangat positif, terutama dalam mendorong anak muda hidup sehat, berdaya, dan aktif berolahraga.
“Duta Pora juga menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan pemuda,” kata Andri saat ditemui usai kegiatan, Minggu (5/10).
Andri menilai, untuk mencapai posisi ini para peserta harus melewati proses seleksi yang ketat dan panjang — mulai dari administrasi, psikotes, wawancara, hingga penilaian kepemimpinan.
“Tidak mudah terpilih. Mereka harus memiliki prestasi, wawasan luas, komunikasi baik, dan jiwa kepemimpinan yang kuat,” jelasnya.
Ajang Duta Pora tahun ini menghadirkan finalis dengan latar belakang yang sangat beragam — mulai dari atlet, pengusaha muda, influencer digital, desainer grafis, hingga pegiat sosial.
Keberagaman itu, kata Andri, menjadi bukti bahwa potensi pemuda Jakarta tidak terbatas pada satu bidang saja.
“Program ini memberi ruang bagi para finalis untuk membangun jejaring, mengasah kepemimpinan, dan berkontribusi nyata di bidang kepemudaan serta olahraga,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Duta Pora diharapkan menjadi wadah kolaboratif antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat agar tercipta ekosistem pemuda yang progresif dan inklusif.
Dalam kesempatan yang sama, Andri menyampaikan apresiasi kepada seluruh finalis yang telah berjuang dan menunjukkan semangat positif selama proses seleksi.
Menurutnya, keberadaan Duta Pora memberi nilai tambah bagi Dispora DKI karena membawa ide-ide segar dalam mengembangkan program kepemudaan.
“Saya memandang penting agar pemilihan Duta Pora terus dilaksanakan setiap tahun, karena dampaknya nyata dan positif bagi organisasi maupun pemerintah daerah,” ujarnya.
Lebih jauh, ia berharap para pemenang dan finalis dapat terus menjadi teladan bagi anak muda Jakarta baik dalam disiplin, etika, maupun semangat berkontribusi untuk masyarakat.
“Besar harapan saya, talenta yang dimiliki para finalis bisa memberi warna baru bagi pengembangan kepemudaan dan olahraga di Jakarta,” tutur Andri.
Seluruh tahapan pemilihan Duta Pora dilakukan secara terbuka dan profesional. Proses penjurian melibatkan berbagai pihak seperti Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), psikolog, Ikatan Duta Pora Jakarta, Lembaga Kesenian Betawi, hingga praktisi independen.
Penilaian difokuskan pada aspek kepribadian, kemampuan komunikasi, dan ide gagasan untuk pembangunan pemuda di Jakarta.
Terpilihnya Ashjabbar dan Niwa menandai munculnya generasi muda yang siap menjadi inspirasi baru. Mereka diharapkan bukan hanya menjadi simbol prestasi, tetapi juga teladan nyata dalam menggerakkan pemuda untuk hidup sehat, berdaya, dan cinta olahraga.
“Duta Pora diharapkan terus membawa semangat positif dan menjadi motor penggerak dalam membangun masyarakat Jakarta yang sehat dan berkarakter,” tutup Andri.






