Pertamina Kuasai Blok Bobara: Energi Nasional Makin Kokoh?

Avatar photo

- Penulis Berita

Senin, 27 Oktober 2025 - 13:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pertamina Kuasai Blok Bobara: Energi Nasional Makin Kokoh?

Pertamina Kuasai Blok Bobara: Energi Nasional Makin Kokoh?

PT Pertamina Hulu Energi (PHE), melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi Bobara, kini resmi menjadi pemegang 24,5 persen hak partisipasi di Blok Migas Bobara. Akuisisi saham dari Petroliam Nasional Berhad (Petronas) ini ditandai dengan penandatanganan Farm-Out Agreement (FOA) yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, bertepatan dengan gelaran KTT ASEAN Summit ke-47 pada Minggu, 26 Oktober 2025. Langkah ini membentuk struktur kemitraan baru yang melibatkan tiga raksasa energi untuk menggarap potensi migas di perairan laut dalam Papua Barat.

Dalam konfigurasi kemitraan terkini, Petronas tetap memegang kendali sebagai operator dengan kepemilikan 51 persen hak partisipasi. Sementara itu, PHE Bobara dan TotalEnergies masing-masing menguasai 24,5 persen. TotalEnergies sendiri telah lebih dulu mengakuisisi bagiannya dari Petronas pada Juni lalu, melengkapi formasi konsorsium di Wilayah Kerja (WK) Bobara.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menuturkan kolaborasi strategis ini merupakan wujud nyata penguatan kemitraan energi antara Indonesia dan Malaysia. “Seremoni ini bukan sekadar tonggak kontraktual, tetapi wujud sinergi kapabilitas yang saling melengkapi dalam memperkuat ketahanan energi kawasan dan mendorong pembangunan berkelanjutan,” kata Simon seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, Senin, 27 Oktober 2025. Ia juga menyatakan harapannya agar kerja sama bisnis Pertamina terus berkembang di Malaysia, termasuk potensi untuk menjadi operator di Balingian PSC dan berbagai proyek lain di masa depan.

Baca Juga :  Dirut Medikaloka Hermina Yulisar Khiat Lepas 177,84 Juta Saham HEAL

Awang Lazuardi, Direktur Utama PHE, mengimbuhkan bahwa keterlibatan PHE di Blok Bobara menunjukkan komitmen kuat antara Pertamina, Petronas, dan TotalEnergies dalam memperluas eksplorasi migas di wilayah frontier. “PSC Bobara sejalan dengan strategi PHE untuk mencari dan mengembangkan potensi energi baru di kawasan timur Indonesia,” ujarnya, menegaskan fokus pada area-area yang belum banyak terjamah.

Langkah strategis ini bukan sekadar transaksi bisnis semata, melainkan sebuah manifestasi konkret dari upaya kolektif untuk mengamankan pasokan energi nasional, mendiversifikasi portofolio eksplorasi di wilayah yang belum terjamah, serta memposisikan Indonesia sebagai pemain kunci dalam peta energi global. Keterlibatan tiga entitas energi raksasa—Pertamina, Petronas, dan TotalEnergies—mencerminkan kepercayaan terhadap potensi cadangan migas di Papua Barat sekaligus komitmen untuk berbagi risiko dan kapabilitas dalam proyek berisiko tinggi namun berpotensi imbal hasil besar ini. Kerja sama lintas batas ini diharapkan menciptakan efek domino positif, tidak hanya dalam peningkatan produksi, tetapi juga transfer teknologi dan keahlian yang vital bagi industri migas.

Baca Juga :  IHSG Anjlok: Analis Ungkap Dampak dan Strategi Investasi!

Sebelum kesepakatan tripartit ini terbentuk, hak pengelolaan Blok Bobara sepenuhnya berada di tangan Petronas. Kehadiran dua pemain global besar lainnya ke dalam konsorsium ini sejalan dengan ambisi pemerintah Indonesia. Sebelumnya, pada Juni 2025, Direktur Jenderal Migas yang saat itu dijabat Tri Winarno, telah menjelaskan bahwa keterlibatan TotalEnergies merupakan hasil pendekatan strategis pemerintah dalam menarik investasi migas global. “Masuknya TotalEnergies dan Pertamina ke WK Bobara menjadi tonggak penting dalam upaya mencapai target lifting migas nasional,” ujar Tri melalui keterangan tertulis pada Senin, 23 Juni 2025.

Ia menambahkan, langkah ini juga menegaskan besarnya potensi cadangan migas Indonesia, khususnya di Papua Barat dan kawasan timur lainnya seperti WK Gaea I–II dan Akimeugah I–II, yang menjanjikan peluang eksplorasi lebih lanjut. Blok Bobara sendiri mencakup area seluas sekitar 8.444,49 kilometer persegi, diperkirakan memiliki potensi sumber daya migas mencapai 6,8 billion barrel oil equivalent (BBOE). Kontrak bagi hasil WK Bobara ditandatangani pada Mei 2024 dengan jangka waktu 30 tahun. Komitmen pasti yang disepakati mencakup nilai sebesar US$16,92 juta untuk studi geologi, survei seismik seluas 2.000 km², serta bonus tanda tangan sebesar US$50 ribu.

Berita Terkait

ABMM Tertekan: Laba Investama Anjlok di Kuartal III-2025
Kimia Farma Merugi Ratusan Miliar Investor Cemas?
Awas! BPOM Bongkar 15 Produk Herbal Ilegal Berbahaya
DEX Pintu Meledak! Pengguna Baru Melonjak 490% di Kuartal III-2025
KPK Sikat Dinas PUPR Riau: OTT Gegerkan Publik!
Onadio Leonardo Sehat! Hasil Pemeriksaan Polres Jakbar Bikin Lega
Harga Batubara Anjlok Akhir Tahun? Investor Waspada!
Window Dressing Mengintai? Peluang dan Risiko IHSG Bulan Ini

Berita Terkait

Selasa, 4 November 2025 - 11:22 WIB

ABMM Tertekan: Laba Investama Anjlok di Kuartal III-2025

Selasa, 4 November 2025 - 10:06 WIB

Kimia Farma Merugi Ratusan Miliar Investor Cemas?

Selasa, 4 November 2025 - 07:11 WIB

Awas! BPOM Bongkar 15 Produk Herbal Ilegal Berbahaya

Selasa, 4 November 2025 - 00:56 WIB

DEX Pintu Meledak! Pengguna Baru Melonjak 490% di Kuartal III-2025

Senin, 3 November 2025 - 20:46 WIB

KPK Sikat Dinas PUPR Riau: OTT Gegerkan Publik!

Berita Terbaru

Warning! This link is a trap for bad bots! Do not follow this link or you're IP adress will be banned from the site!