Mayoritas pasar saham di Asia menunjukkan kinerja positif pada perdagangan Kamis (16/10/2025) pagi, meskipun pergerakan indeks bervariasi di tengah sentimen pasar yang kompleks. Pada pukul 08.20 WIB, optimisme terlihat di sejumlah bursa utama, sementara beberapa lainnya justru mengalami pelemahan tipis.
Indeks Nikkei 225 Jepang memimpin penguatan dengan melonjak 401,49 poin atau 0,83%, mencapai level 48.082,99. Di Korea Selatan, Kospi juga mencatat kenaikan signifikan sebesar 63,60 poin atau 1,78% ke posisi 3.722,18. Pasar saham Taiwan, Taiex, turut menguat 148,26 poin atau 0,70% menjadi 27.460,82, diikuti oleh ASX 200 Australia yang melesat 110,98 poin atau 1,23% ke 9.101,90. Bahkan, FTSE Malaysia membukukan kenaikan tipis 1,70 poin atau 0,11% ke 1.613,39. Namun, tidak semua bursa mengikuti tren positif ini; Indeks Hang Seng Hong Kong tergelincir 20,59 poin atau 0,08% ke 25.890,01, demikian pula Straits Times Singapura yang melemah 2,18 poin atau 0,07% ke 4.364,38.
Kompaknya penguatan di bursa-bursa utama seperti Jepang, Australia, dan Korea Selatan tidak lepas dari sentimen positif global. Langkah tersebut didorong oleh performa impresif Wall Street semalam, khususnya reli pada indeks S&P 500, yang memberikan angin segar bagi investor di kawasan Asia.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap ketegangan geopolitik kembali mencuat ke permukaan. Mengutip laporan dari Bloomberg, Presiden AS Donald Trump menuturkan bahwa Amerika Serikat kini terperangkap dalam “perang dagang” dengan China, sebuah pernyataan yang dapat memicu gejolak di pasar global.
Situasi ini diperparah dengan usulan dari Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang menyarankan penangguhan tarif tinggi dalam jangka waktu lebih panjang. Usulan Bessent ini bertujuan untuk meredakan sengketa terkait mineral penting dengan Beijing, menunjukkan adanya upaya mitigasi di tengah eskalasi konflik perdagangan.
Pernyataan dari pejabat AS ini, baik yang mengindikasikan perang dagang maupun upaya meredakannya, secara keseluruhan semakin memperkeruh suasana di pasar saham. Ketegangan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia itu terus berkobar, memicu fluktuasi signifikan. Namun, meskipun sempat terjadi aksi jual masif pada Jumat pekan lalu, pasar menunjukkan ketahanan dengan menarik minat para pembeli oportunistik.
Mark Hackett, seorang ahli strategi dari Nationwide, seperti dikutip oleh Bloomberg, mengamati fenomena ini. Menurutnya, “Investor yang membeli saat harga sedang turun masih menjadi penggerak utama, menjaga sentimen tetap kuat meski indikator teknis menunjukkan tanda-tanda melemah.” Hal ini mengindikasikan bahwa kepercayaan investor masih solid, sekalipun menghadapi tantangan yang ada.






