Konsolidasi yang melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini membuka peluang strategis bagi para investor untuk mengakumulasi saham-saham berfundamental kokoh yang harganya tengah terdiskon. Penilaian ini disampaikan oleh Hendra Wardana, seorang analis sekaligus Founder Republik Investor, yang melihat koreksi pasar sebagai momen tepat untuk mengoleksi saham-saham unggulan di indeks LQ45.
“Saham-saham berfundamental kuat seperti BBCA, TLKM, UNTR, dan ASII mulai menarik untuk dikoleksi secara bertahap, terutama bagi investor jangka menengah hingga panjang,” ujar Hendra dalam keterangan tertulisnya pada Senin (20/10/2025).
Hendra menunjuk saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai layak untuk kategori *speculative buy*, mematok target harga Rp 7.950. Prospek perbankan nasional, menurutnya, masih sangat solid dengan kondisi likuiditas yang melonggar di pasar.
Sementara itu, saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) direkomendasikan *buy on weakness* di kisaran Rp 2.780 dengan target Rp 3.100. Kinerja emiten telekomunikasi ini didukung oleh pertumbuhan bisnis digital dan pusat data yang terus menunjukkan penguatan signifikan.
Di sektor otomotif, PT Astra International Tbk (ASII) juga disarankan *buy on weakness* di area Rp 5.400, dengan harapan mencapai target harga Rp 6.000. Rekomendasi ini seiring dengan proyeksi pemulihan penjualan kendaraan yang diperkirakan akan terjadi pada semester mendatang.
Lebih lanjut, saham PT United Tractors Tbk (UNTR) memperoleh rekomendasi *buy* dengan target harga Rp 27.450. Kinerja UNTR didukung oleh prospek stabil dari lini bisnis alat beratnya, serta kontribusi yang semakin besar dari sektor tambang emas. Investor dianjurkan untuk memanfaatkan momentum ini untuk membangun posisi secara bertahap pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki pondasi keuangan yang kuat.
“Koreksi pasar kali ini dapat dimanfaatkan investor sebagai momentum akumulasi bertahap pada saham-saham berkapitalisasi besar dengan fundamental kokoh,” kata Hendra, menegaskan bahwa kondisi pasar saat ini merupakan kesempatan emas bagi investor cermat yang ingin membangun portofolio jangka panjang dengan risiko yang terukur. Situasi seperti ini kerap menjadi titik balik di mana aset-aset berkualitas tinggi menjadi lebih terjangkau, memungkinkan potensi keuntungan yang lebih substansial ketika sentimen pasar membaik.
Ia menambahkan, IHSG kini bergerak di bawah pola *lower wedge* dengan area *support* di kisaran 7.805 dan zona kuat antara 7.448–7.548. *Resistance* jangka pendek terpantau di sekitar 8.285. Apabila IHSG mampu bertahan di atas level *support* tersebut, peluang *rebound* tetap terbuka lebar, khususnya jika tekanan eksternal mulai mereda.
Menurut Hendra, koreksi tajam pada sejumlah saham besar seperti BREN, BBCA, DSSA, DCII, TPIA, BYAN, dan AMMN mencerminkan aksi ambil untung yang wajar. Hal ini terjadi setelah lonjakan harga yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
“Investor kini tampak memilih mengamankan keuntungan di tengah ketidakpastian global yang meningkat,” ujarnya.
Sebagai catatan, IHSG pekan lalu ditutup melemah 2,57 persen ke level 7.915,66 pada perdagangan Jumat (17/10/2025). Koreksi lebih dari 3 persen dalam sepekan terakhir menandai fase distribusi setelah IHSG sempat menyentuh rekor tertinggi di 8.288.
Disclaimer: Artikel ini bukan ajakan membeli atau menjual saham. Semua rekomendasi berasal dari analis yang bersangkutan. Kompas.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian investasi. Investor disarankan melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan.






