Stabilitas Ekonomi 2025: Investor Incar IPO di Indonesia

Avatar photo

- Penulis Berita

Jumat, 31 Oktober 2025 - 01:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Stabilitas Ekonomi 2025: Investor Incar IPO di Indonesia

Stabilitas Ekonomi 2025: Investor Incar IPO di Indonesia

KanalHarian.com — Aktivitas penawaran umum perdana (IPO) di Indonesia menunjukkan pergeseran signifikan, kini lebih memprioritaskan kualitas dibanding kuantitas. Laporan EY Global IPO Trends Kuartal III 2025 mengungkap, meskipun jumlah IPO mencatat penurunan 35% dibandingkan tahun sebelumnya, total dana yang berhasil dihimpun justru melonjak hampir tiga kali lipat, mencapai USD906 juta hingga akhir kuartal ketiga 2025.

Lonjakan nilai ini, menurut analisis EY, menjadi indikasi kuat bahwa pasar modal Indonesia mulai memfokuskan diri pada emiten dengan valuasi tinggi dan fundamental yang kokoh. Langkah ini sejalan dengan pendekatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang kini memang lebih mengedepankan kualitas ketimbang sekadar volume penerbitan saham.

Reuben Tirtawidjaja, Partner EY-Parthenon Indonesia, menjelaskan bahwa selama tahun berjalan 2025, dominasi IPO di Indonesia berasal dari sektor industri, energi, konsumer, dan kesehatan. Momentum positif ini, menuturkannya, diperkirakan akan berlanjut hingga kuartal IV, dengan daftar 11 perusahaan yang siap melantai di bursa.

Baca Juga :  IHSG Terjun Bebas! ADMR, BRPT, MBMA Jadi Biang Kerok?

Dari daftar calon emiten tersebut, empat perusahaan tercatat memiliki aset di atas Rp250 miliar, sementara tujuh lainnya berada dalam rentang Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Merinci lebih jauh berdasarkan sektor, terdapat masing-masing dua perusahaan dari bidang konsumer, keuangan, dan industri, serta satu perusahaan teknologi dan dua lainnya dari sektor transportasi-logistik.

Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melampaui ekspektasi pada periode ini, bertengger di level 8.166,22 per 30 Oktober 2025, mencerminkan pertumbuhan sekitar 14,25 persen dibandingkan awal tahun, atau 8,14 persen secara tahunan. Kondisi pasar yang kondusif ini, ditambah dengan selektivitas OJK, menciptakan iklim di mana investor semakin berani menempatkan modal dalam jumlah besar pada emiten yang benar-benar menjanjikan. Dengan demikian, meskipun jumlah perusahaan yang melakukan IPO berkurang, kualitas dan kepercayaan investor yang meningkat terhadap emiten pilihan telah mendorong akumulasi dana yang jauh lebih besar.

Baca Juga :  Mayora (MYOR) Optimistis Tutup Tahun Lebih Baik, Begini Strateginya

Emiten Besar Jadi Penggerak Pasar

Kuatnya kinerja IPO nasional tidak terlepas dari kontribusi signifikan sejumlah emiten besar yang berhasil menarik minat investor. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) memimpin dengan penggalangan dana terbesar senilai USD283 juta. Diikuti oleh PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) sebesar USD146 juta, PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) sebesar USD142 juta, dan PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) sebesar USD123 juta.

Pencapaian ini menyoroti pergeseran fokus investor. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu, hanya ada satu IPO yang berhasil menghimpun dana di atas USD50 juta, yaitu PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) dengan perolehan USD55 juta.

Prospek Positif, Namun Selektif

EY mengamati bahwa kini investor semakin cermat dan berhati-hati dalam menyeleksi emiten. Mereka tidak hanya mempertimbangkan potensi keuntungan semata, melainkan juga menimbang narasi pertumbuhan yang jelas, praktik tata kelola perusahaan yang baik, serta kesiapan emiten dalam menghadapi disrupsi teknologi di masa depan.

Baca Juga :  Nilai Aset Reksa Dana Saham Turun, Apa Penyebabnya?

Secara global, momentum IPO juga menunjukkan peningkatan signifikan, tumbuh 19% secara tahunan dengan lonjakan nilai mencapai 89%. Di kawasan Asia Tenggara, Singapura mendominasi perolehan dana IPO pada kuartal III 2025 dengan USD1,5 miliar, sementara Indonesia menempati posisi kedua dengan USD478 juta.

EY memproyeksikan bahwa prospek IPO Indonesia akan tetap positif hingga akhir tahun. Hal ini ditopang oleh kondisi likuiditas yang kuat di pasar, kebijakan moneter yang cenderung longgar, serta stabilitas makroekonomi yang terjaga.

Namun demikian, tantangan seperti ketidakpastian politik dan fluktuasi global tetap memerlukan kewaspadaan. Reuben menegaskan, “Kunci sukses emiten Indonesia ke depan adalah kesiapan menghadapi volatilitas dan kemampuan membangun kepercayaan investor melalui tata kelola yang solid dan strategi pertumbuhan berkelanjutan.”

Berita Terkait

ABMM Tertekan: Laba Investama Anjlok di Kuartal III-2025
Kimia Farma Merugi Ratusan Miliar Investor Cemas?
Awas! BPOM Bongkar 15 Produk Herbal Ilegal Berbahaya
DEX Pintu Meledak! Pengguna Baru Melonjak 490% di Kuartal III-2025
KPK Sikat Dinas PUPR Riau: OTT Gegerkan Publik!
Onadio Leonardo Sehat! Hasil Pemeriksaan Polres Jakbar Bikin Lega
Harga Batubara Anjlok Akhir Tahun? Investor Waspada!
Window Dressing Mengintai? Peluang dan Risiko IHSG Bulan Ini

Berita Terkait

Selasa, 4 November 2025 - 11:22 WIB

ABMM Tertekan: Laba Investama Anjlok di Kuartal III-2025

Selasa, 4 November 2025 - 10:06 WIB

Kimia Farma Merugi Ratusan Miliar Investor Cemas?

Selasa, 4 November 2025 - 07:11 WIB

Awas! BPOM Bongkar 15 Produk Herbal Ilegal Berbahaya

Selasa, 4 November 2025 - 00:56 WIB

DEX Pintu Meledak! Pengguna Baru Melonjak 490% di Kuartal III-2025

Senin, 3 November 2025 - 20:46 WIB

KPK Sikat Dinas PUPR Riau: OTT Gegerkan Publik!

Berita Terbaru

Warning! This link is a trap for bad bots! Do not follow this link or you're IP adress will be banned from the site!