Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi pusat perhatian setelah merosot tajam 4,14% dalam sepekan terakhir, menembus level psikologis 8.000 dan berakhir di posisi 7.915. Penurunan signifikan ini dipicu oleh meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, aksi *taking profit* pada saham-saham konglomerasi, serta ancaman *shutdown* ekonomi di AS yang membebani sentimen pasar global. Ironisnya, di tengah tekanan jual besar-besaran, investor asing justru mencatatkan *net buy* sebesar Rp 1,94 triliun di semua pasar, memunculkan pertanyaan mendalam: apakah koreksi kali ini hanyalah jeda teknikal sebelum tren *bullish* kembali berlanjut?
Tekanan jual yang kuat pada pasar saham domestik tidak dapat dilepaskan dari sejumlah faktor eksternal dan internal. Ketegangan yang membara antara Washington dan Beijing seputar perang dagang kembali menciptakan ketidakpastian di lantai bursa. Di samping itu, para investor juga terpantau melakukan aksi ambil untung pada saham-saham konglomerasi setelah reli panjang, menambah bobot pelemahan indeks. Situasi ini diperparah dengan gejolak di ekonomi Amerika Serikat, khususnya terkait potensi *shutdown* pemerintahan, yang mengirimkan gelombang kekhawatiran ke seluruh penjuru dunia.
Fenomena *net buy* oleh investor asing sebesar Rp 1,94 triliun di tengah gejolak pasar adalah sebuah anomali yang menarik untuk dicermati. Biasanya, saat pasar diterpa sentimen negatif, modal asing akan keluar. Namun, kali ini, justru ada arus masuk yang kuat, menyiratkan adanya keyakinan tersembunyi terhadap prospek jangka panjang pasar saham Indonesia. Situasi ini mendorong spekulasi bahwa koreksi yang terjadi mungkin lebih bersifat sementara, sebuah kesempatan bagi investor berpengalaman untuk mengakumulasi aset pada harga yang lebih rendah.
Analisis dari BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan, meski terjadi penurunan yang cukup dalam, tren IHSG secara keseluruhan masih mengarah ke *bullish*. Riset mereka menuturkan, IHSG berhasil menutup *gap* pada level 7.885 dan kini telah memasuki area *lower band*. “Saat ini, berhasil menutup gap di 7.885 dan telah memasuki area lower band. Potensi resistance terdekat kembali menuju level psikologis 8.000,” demikian pernyataan dalam riset yang dikutip Minggu (19/10/2025).
Namun, Sekuritas tersebut juga tidak mengesampingkan kemungkinan koreksi lebih lanjut. IHSG berpotensi berbalik arah jika membentuk pola *head and shoulders* dengan *neckline* di level 8.030. Skenario pelemahan ini, mereka mengimbuhkan, ditargetkan akan menuju level 7.767 hingga 7.626. Proyeksi yang terbagi ini menggambarkan bagaimana para analis melihat pasar berada pada persimpangan jalan, di mana arah selanjutnya akan sangat ditentukan oleh respons terhadap level-level teknikal kunci.
Melihat anomali *net buy* asing di tengah tekanan, serta sinyal teknikal yang bercampur antara potensi penguatan dan pelemahan, pasar saham Indonesia berada di titik krusial. Seolah menanti konfirmasi, para investor kini menimbang apakah faktor-faktor jangka pendek yang menekan indeks merupakan bagian dari siklus koreksi yang sehat, ataukah ini adalah awal dari tren penurunan yang lebih dalam. Respons pasar terhadap kebijakan global dan domestik mendatang akan menjadi penentu utama, membentuk narasi yang lebih jelas tentang prospek kinerja IHSG ke depan.
Dari kancah global, mata investor tertuju pada pertemuan penting antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam dua pekan mendatang. Trump telah menegaskan bahwa kebijakan tarif impor 100% terhadap barang asal Tiongkok bukanlah langkah permanen, melainkan strategi sementara untuk menekan Beijing dalam negosiasi. Ia optimistis bahwa pembicaraan ini akan menghasilkan kesepakatan yang konstruktif. Pertemuan ini menjadi sorotan dunia karena dinilai mampu meredakan ketegangan dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar, sekaligus membuka peluang bagi stabilisasi pasar keuangan internasional yang lebih luas.
Di sisi domestik, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tengah mengkaji rencana penurunan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Kebijakan ini bertujuan untuk mendorong daya beli masyarakat dan menjaga laju pertumbuhan ekonomi di tengah perlambatan konsumsi domestik. Langkah strategis ini berpotensi memberikan angin segar bagi sektor-sektor yang sangat sensitif terhadap perubahan harga dan kekuatan beli konsumen, seperti konsumsi, ritel, otomotif, dan properti, menjanjikan katalis positif dari dalam negeri.






