WIKA Rugi Triliunan Rupiah Kuartal III 2025: Apa Dampaknya?

Avatar photo

- Penulis Berita

Minggu, 2 November 2025 - 09:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

WIKA Rugi Triliunan Rupiah Kuartal III 2025: Apa Dampaknya?

WIKA Rugi Triliunan Rupiah Kuartal III 2025: Apa Dampaknya?

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) kembali mencatatkan kinerja keuangan yang kurang memuaskan sepanjang periode Januari hingga September 2025. Emiten konstruksi pelat merah ini melaporkan kerugian bersih signifikan sebesar Rp 3,21 triliun pada kuartal III 2025, sebuah pembalikan drastis dari laba bersih sebesar Rp 741,43 miliar yang berhasil diraih pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan juga terlihat pada pendapatan bersih perseroan. WIKA membukukan pendapatan sebesar Rp 9,09 triliun hingga September 2025, merosot 27,54% dibandingkan Rp 12,54 triliun pada periode yang sama tahun 2024. Kontribusi terbesar terhadap pendapatan WIKA berasal dari segmen usaha infrastruktur dan gedung, yang mencapai Rp 3,58 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan tajam 40,42% secara tahunan (YoY).

Segmen usaha industri menjadi kontributor kedua terbesar dengan raihan Rp 2,63 triliun, yang juga terkoreksi 25,36% YoY. Selain itu, segmen energi dan industrial plant menyumbangkan Rp 2,3 triliun, sementara segmen hotel memberikan kontribusi Rp 203,78 miliar. Segmen realty dan properti mencatat Rp 192,33 miliar, dan segmen investasi sebesar Rp 174,62 miliar.

Kondisi menantang di sektor konstruksi tampaknya berdampak pula pada perolehan kontrak baru WIKA. Hingga September 2025, perseroan hanya mampu mengantongi kontrak baru sebesar Rp 6,19 triliun, anjlok 60,25% YoY dari Rp 15,58 triliun pada periode yang sama tahun 2024. Meskipun demikian, beban pokok pendapatan WIKA terpantau menurun dari Rp 11,48 triliun pada kuartal III 2024 menjadi Rp 8,33 triliun pada periode ini.

Baca Juga :  Harga Emas Dunia Tembus Rekor Baru, Sentuh 4.200 Dollar Akibat Ketegangan AS–China

Akibatnya, laba kotor WIKA tercatat Rp 758,31 miliar per September 2025, menurun 28,46% secara tahunan dari Rp 1,06 triliun. Di sisi lain, beberapa beban operasional WIKA justru menunjukkan peningkatan. Beban umum dan administrasi naik dari Rp 795,27 juta menjadi Rp 865,78 juta pada kuartal III 2025. Pos bagian rugi pengendalian bersama juga melonjak dari Rp 669,64 miliar menjadi Rp 1,1 triliun pada periode yang sama. Kenaikan beban ini memperberat tekanan pada profitabilitas perusahaan, menyiratkan adanya tantangan dalam efisiensi operasional atau peningkatan biaya-biaya non-produksi yang signifikan.

WIKA diketahui tergabung dalam sebuah usaha patungan (joint venture) dengan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Hingga 30 September 2025, KSO WIKA-CRIC-CRDC-CREC-CRSC mencatat saldo Pendapatan Ditangguhkan Proyek Kemitraan (PDPK) terkait proyek High Speed Railway Jakarta–Bandung milik KCIC sebesar Rp 5,01 miliar, yang merupakan klaim atas biaya tak terduga (cost overrun). Selain itu, WIKA melakukan penyertaan modal sebesar Rp 6,11 miliar ke PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dengan persentase kepemilikan 39,21% pada November 2022. PSBI merupakan perusahaan yang dimiliki bersama oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI), WIKA, PT Jasa Marga Tbk (JSMR), dan PTPN I. Namun, pada Desember 2024, PSBI menerbitkan 2,69 juta saham senilai Rp 2,69 miliar yang sepenuhnya diambil oleh KAI. Transaksi ini mengakibatkan persentase kepemilikan WIKA di PSBI terdilusi dari 39,12% menjadi 33,36%.

Baca Juga :  Kebijakan Ekonomi Baru Dongkrak Rasio Pajak 2026?

Kinerja yang terkoreksi ini membuat WIKA mencatat rugi per saham dasar sebesar Rp 80,55 per kuartal III 2025, berbanding terbalik dari laba per saham dasar Rp 18,59 pada periode yang sama tahun lalu. Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, menuturkan bahwa perseroan terus berupaya menjaga kinerja fundamental di tengah kondisi industri konstruksi yang penuh tantangan.

Agung menjelaskan, upaya konsisten yang dilakukan WIKA meliputi delapan substream penyehatan, seperti peningkatan tata kelola dan perbaikan portofolio order book. Selain itu, empat pilar utama perbaikan arus kas juga terus dijalankan, mencakup restrukturisasi utang, daur ulang aset non-inti pada penyertaan investasi jangka panjang, percepatan pencairan piutang, serta penerapan keunggulan operasional di seluruh lini bisnis.

Langkah-langkah tersebut membuahkan hasil, di mana WIKA berhasil menurunkan utang berbunga sebesar Rp 2,20 triliun dan utang mitra kerja sebesar Rp 924,58 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan juga sukses menurunkan Account Receivable Days (efektivitas perputaran piutang) dan Account Payable Days (efektivitas pembayaran utang) masing-masing menjadi 127 hari dan 158 hari, dari sebelumnya 142 hari dan 196 hari.

Baca Juga :  SAK Kripto Disetujui: Investor Untung, Pelaporan Lebih Transparan!

Dampak dari upaya efisiensi ini terlihat pada kemampuan WIKA untuk menjaga inti operasi perseroan tetap positif, dengan catatan sebesar Rp 287,83 miliar. “Selain itu, kami juga aktif membangun komunikasi yang intensif dengan stakeholders kami. Sebab, diperlukan dukungan dari seluruh pihak agar langkah penguatan dan penyehatan ini dapat berjalan dengan baik,” kata Agung Budi Waskito dalam keterangan resminya pada Jumat (31/10).

Per 30 September 2025, jumlah aset WIKA tercatat Rp 57,01 triliun, menurun dari Rp 63,55 triliun pada 31 Desember 2024. Sementara itu, jumlah liabilitas perseroan juga terkoreksi menjadi Rp 48,44 triliun di akhir September 2025, dari Rp 51,68 triliun di akhir Desember 2024. Total ekuitas WIKA tercatat Rp 8,57 triliun pada kuartal III 2025, turun dari Rp 11,87 triliun pada akhir tahun 2024. Defisit perseroan tercatat Rp 12,75 triliun per kuartal III 2025, meningkat dari defisit Rp 9,53 triliun pada kuartal III 2024. Adapun posisi kas dan setara kas WIKA pada akhir September 2025 tercatat Rp 1,54 triliun, anjlok tajam dari Rp 5,6 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Berita Terkait

ABMM Tertekan: Laba Investama Anjlok di Kuartal III-2025
Kimia Farma Merugi Ratusan Miliar Investor Cemas?
Awas! BPOM Bongkar 15 Produk Herbal Ilegal Berbahaya
DEX Pintu Meledak! Pengguna Baru Melonjak 490% di Kuartal III-2025
KPK Sikat Dinas PUPR Riau: OTT Gegerkan Publik!
Onadio Leonardo Sehat! Hasil Pemeriksaan Polres Jakbar Bikin Lega
Harga Batubara Anjlok Akhir Tahun? Investor Waspada!
Window Dressing Mengintai? Peluang dan Risiko IHSG Bulan Ini

Berita Terkait

Selasa, 4 November 2025 - 11:22 WIB

ABMM Tertekan: Laba Investama Anjlok di Kuartal III-2025

Selasa, 4 November 2025 - 10:06 WIB

Kimia Farma Merugi Ratusan Miliar Investor Cemas?

Selasa, 4 November 2025 - 07:11 WIB

Awas! BPOM Bongkar 15 Produk Herbal Ilegal Berbahaya

Selasa, 4 November 2025 - 00:56 WIB

DEX Pintu Meledak! Pengguna Baru Melonjak 490% di Kuartal III-2025

Senin, 3 November 2025 - 20:46 WIB

KPK Sikat Dinas PUPR Riau: OTT Gegerkan Publik!

Berita Terbaru

Warning! This link is a trap for bad bots! Do not follow this link or you're IP adress will be banned from the site!