Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) pada Senin, 20 Oktober 2025, merilis hasil survei daring yang menyoroti persepsi 64 ahli ekonomi dari berbagai negara. Studi yang dilaksanakan pada 6-16 Oktober 2025 ini melibatkan para pakar dari Indonesia, Inggris, Amerika Serikat, Belanda, dan Australia, bertujuan mengevaluasi kondisi ekonomi dan sosial Indonesia, sekaligus mengukur kinerja satu tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Temuan utamanya menunjukkan mayoritas ahli ekonomi berpendapat situasi ekonomi nasional masih memburuk dibandingkan tiga bulan sebelumnya.
Laporan bertajuk “LPEM Economic Experts Survey Semester II 2025” tersebut menguraikan bahwa sebanyak 30 ahli atau 47 persen secara eksplisit menyatakan kondisi ekonomi saat ini buruk. Dua ahli lainnya bahkan menilai situasinya jauh lebih buruk. Sementara itu, 24 ahli berpendapat tidak ada perubahan berarti, dan hanya delapan ahli yang melihat adanya perbaikan. Ironisnya, tidak ada satu pun ahli yang menilai kondisi ekonomi jauh lebih baik. Fakta ini sejalan dengan hasil survei LPEM UI sebelumnya pada Maret 2025, di mana 55 persen ekonom juga berpendapat kondisi ekonomi nasional memburuk.
Selain itu, survei ini juga menangkap adanya kekhawatiran terkait peningkatan tekanan inflasi. Dari total 64 responden, 25 ahli atau 39 persen mengamati peningkatan tekanan inflasi dibanding periode sebelumnya, dengan lima ahli lainnya bahkan menilai dampaknya jauh lebih tinggi. Di sisi lain, 29 ahli atau 45 persen meyakini tekanan inflasi tetap sama seperti sebelumnya, dan hanya lima orang yang melihat adanya penurunan tekanan inflasi.
Kondisi pasar tenaga kerja juga menjadi sorotan serius dalam survei LPEM UI. Sebanyak 27 dari 64 ahli berpendapat pasar tenaga kerja mengalami kemunduran dari periode sebelumnya, mengindikasikan adanya tantangan yang belum teratasi. Lebih mengkhawatirkan, sepuluh ahli justru menilai situasinya jauh lebih buruk. Sementara itu, 24 ahli tidak melihat adanya perubahan signifikan, dan hanya tiga ahli yang melaporkan adanya perbaikan dalam kondisi pasar tenaga kerja.
Mayoritas ahli ekonomi juga menyoroti memburuknya lingkungan usaha dibandingkan tiga bulan lalu. LPEM UI mencatat bahwa 29 dari 64 ahli menyatakan situasi bisnis kini lebih buruk, dan empat ahli bahkan mengutarakan penilaian yang lebih pesimis dengan kondisi yang jauh memburuk. Hanya delapan ahli yang melihat adanya perbaikan dalam lingkungan usaha, sementara 23 ahli lain menilai tidak ada perubahan.
Penurunan persepsi terhadap kondisi ekonomi secara menyeluruh, diimbangi dengan tekanan inflasi yang meningkat, kondisi pasar tenaga kerja yang stagnan, dan lingkungan usaha yang kian menantang, mengindikasikan adanya kompleksitas masalah fundamental. Para ahli ekonomi tampaknya menangkap sinyal bahwa berbagai sektor saling terkait dalam menciptakan tekanan makroekonomi, yang membutuhkan intervensi kebijakan yang lebih terkoordinasi dan efektif.
Menyikapi temuan ini, LPEM UI menegaskan bahwa data tersebut menyiratkan “pelaku usaha masih menghadapi beban dan tantangan yang cukup berat.” Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penutup dari laporan survei yang mengungkap berbagai indikator ekonomi yang perlu dicermati serius oleh pemangku kebijakan.






