KanalHarian.com Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Erick Thohir, meminta suporter tim nasional Indonesia untuk melupakan atau “move on” dari mantan pelatih Shin Tae-yong. Penegasan ini disampaikan Erick di Jakarta pada Kamis, di tengah kekosongan kursi pelatih kepala Tim Garuda menyusul perpisahan dengan Kluivert pekan lalu, setelah kegagalan menembus kualifikasi Piala Dunia 2026.
Dalam pernyataannya, Erick Thohir menuturkan, “Kalau saya pikir gini. Kita kan mesti *move on.* Kalau kita *move on* sama Patrick, ya kita juga *move on* sama Shin Tae-yong.” Ia menekankan bahwa Shin Tae-yong, yang pernah membesut timnas selama lima tahun sejak awal 2020, kini telah menjadi “masa lalu.” Meskipun beberapa nama pelatih top di Asia dan Eropa santer disebut suporter sebagai kandidat ideal, nama Shin Tae-yong tetap muncul dalam perbincangan.
Erick sebelumnya juga sudah menyampaikan pentingnya untuk “move on” pada Januari lalu, saat PSSI menunjuk Kluivert sebagai pelatih pengganti Shin Tae-yong. Kini, ia menegaskan kembali bahwa baik Shin Tae-yong maupun Kluivert sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Pihaknya akan menjadikan evaluasi terhadap kedua pelatih tersebut sebagai acuan utama dalam mencari profil pelatih baru.
“Kedua pelatih itu sudah masa lalu,” ucap Erick. “Jadi kita harus *moving forward,* mencari pelatih baru, yang kita melihat kekurangan dan kelebihan STY maupun Patrick.” Ia kemudian mengimbuhkan, pihaknya kini tengah mencari profil pelatih yang tepat, dengan mempertimbangkan segala aspek dari masa kepelatihan kedua sosok tersebut. “Kita kan lagi mencari profil, yang dengan segala pertimbangan, kita lihat STY, kita lihat Patrick, kekurangan dan kelebihan apa, kalau bisa dibetulin di pelatih berikutnya,” jelasnya.
Dengan dinamika perubahan pelatih yang kerap terjadi, langkah PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir kali ini tampak lebih strategis dan introspektif. Tidak sekadar mencari sosok yang populer atau memiliki rekam jejak mentereng, proses seleksi kini berfokus pada keselarasan dengan visi pengembangan sepak bola nasional jangka panjang. PSSI seolah ingin menegaskan bahwa masa lalu adalah pelajaran, bukan beban, untuk membangun fondasi yang lebih kokoh bagi masa depan Timnas Indonesia, dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang lebih komprehensif daripada sekadar popularitas individu.
Namun, upaya mencari arsitek timnas yang baru bukanlah pekerjaan mudah. Erick mengungkapkan, salah satu tantangan terbesar adalah reputasi Indonesia di kancah sepak bola internasional yang masih tergolong rendah, dengan peringkat FIFA di luar 100 besar dunia.
“Saya lagi coba buka komunikasi ke banyak pihak,” jelas Erick, “karena jangan sampai persepsi yang terjadi beberapa kali terakhir ini mempersulit posisi kita mencari pelatih. Ranking kita masih rendah, jadi tidak mudah meyakinkan pelatih untuk datang.” Oleh karena itu, ia kini aktif memanfaatkan jejaring internasionalnya untuk mendapatkan pelatih yang tepat, yang memiliki visi dan komitmen terhadap program jangka panjang untuk Timnas Indonesia.
“Jadi yang sekarang saya lagi coba lakukan dengan jaringan internasional saya, memberi *confidence* (kepercayaan diri) balik bahwa kita tetap ingin punya *long term* program (program jangka panjang),” tutur Erick menutup pernyataannya. “Apa yang terjadi kemarin-kemarin itu ya bagian dari bentuk *result* (hasil) yang harus kita tanggung jawab.” Langkah ini menunjukkan komitmen PSSI untuk tidak hanya mencari solusi instan, melainkan membangun fondasi kuat bagi masa depan sepak bola Indonesia.






