Awan keheranan menyelimuti jagat maya setelah salah satu akun Instagram Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) tiba-tiba mengunggah ucapan terima kasih kepada Patrick Kluivert, menyusul perpisahannya dengan Timnas Indonesia. Unggahan tak terduga ini seketika memicu gelombang pertanyaan dan reaksi skeptis dari warganet, yang menyoroti alasan di balik apresiasi AFC tersebut.
Kluivert sendiri telah resmi angkat kaki dari kursi pelatih Timnas Indonesia. Ia bersama segenap tim kepelatihannya memilih tidak melanjutkan kiprahnya bersama skuad Garuda, usai menyepakati pemutusan kontrak lebih awal dengan PSSI dari durasi dua tahun yang telah disepakati. Kepergian legenda sepak bola Belanda tersebut meninggalkan kesan yang kurang menyenangkan di mata publik. Pasalnya, Timnas Indonesia gagal melangkah ke Piala Dunia 2026 setelah menelan dua kekalahan krusial dari Arab Saudi (2-3) dan Irak (0-1) pada putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Lebih jauh, Kluivert dan jajarannya tak pernah menampakkan diri di Indonesia pasca-kekalahan di R4. Tidak ada sepatah kata maaf pun yang terucap maupun tertulis dari sang juru taktik Garuda hingga ia menanggalkan jabatannya. Situasi ini tentu memperkeruh pandangan publik terhadap kinerjanya selama membesut Timnas.
Satu pekan setelah resmi berpisah, unggahan khusus dari akun @afcasiancup mendadak muncul, mengucapkan terima kasih atas dedikasi Patrick Kluivert selama menukangi Timnas Indonesia. “Bab yang membanggakan telah berakhir untuk Indonesia,” demikian tertulis dalam unggahan tersebut, dikutip pada Sabtu (25/10). Akun resmi AFC tersebut lantas menambahkan, “Semangat Patrick Kluivert akan selalu menjadi bagian dari kisah Garuda.”
Alih-alih menyambutnya dengan ucapan terima kasih serupa, warganet Indonesia justru membanjiri kolom komentar dengan berbagai respons bernada nyinyir. Mereka mempertanyakan mengapa AFC merasa perlu mengapresiasi Kluivert, yang secara luas dianggap sebagai penyebab utama kegagalan Timnas Indonesia untuk lolos ke Piala Dunia 2026.
Bahkan, tak sedikit warganet yang menyindir bahwa apresiasi AFC tersebut sejatinya ditujukan karena Kluivert “membantu” kelolosan Arab Saudi ke Piala Dunia 2026. Salah seorang netizen berkomentar, “Mungkin lebih tepatnya statementnya gini: Patrick Kluivert thank you for bring Arab Saudi to the World Cup 2026.” Netizen lain turut menimpali dengan sinis, “Terima kasih buat apa? Bantu meloloskan Arab Saudi ke Piala Dunia di kandangnya sendiri?” sambil menyertakan emoji tertawa. Tidak ketinggalan, komentar senada pun muncul, “Terima kasih karena udah buat Arab lolos kan? Wkwkwk.”
Rentetan komentar pedas dari warganet ini secara tidak langsung merefleksikan jurang persepsi yang dalam antara pandangan publik Indonesia dengan narasi resmi yang disampaikan oleh AFC. Apresiasi yang diberikan oleh badan sepak bola Asia tersebut, terlepas dari niatnya, terasa kontras dengan kekecewaan mendalam yang dirasakan oleh penggemar sepak bola Tanah Air atas hasil buruk kualifikasi. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam ranah sepak bola, emosi dan harapan suporter seringkali menjadi barometer utama penilaian, bahkan terhadap pengakuan dari otoritas tertinggi sekalipun.
Polemik seputar kelolosan Arab Saudi ke Piala Dunia 2026 memang tak lepas dari sorotan. Prosesnya sejak awal telah memantik pro dan kontra serta menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan pecinta sepak bola. Salah satu poin paling jelas yang menjadi sumber keraguan adalah keputusan AFC untuk menunjuk Arab Saudi bersama Qatar sebagai tuan rumah putaran keempat kualifikasi.
Padahal, regulasi awal AFC menegaskan bahwa putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia semestinya dimainkan di tempat netral. Namun, peraturan tersebut kemudian diubah, yang memungkinkan pertandingan krusial itu justru digelar di salah satu negara kontestan di setiap grup. Perubahan ini secara langsung memicu perdebatan sengit dan menyisakan tanda tanya besar mengenai keadilan dalam proses kualifikasi.






