Misteri Foto Tersembunyi Ungkap Fakta Pawai PKI dan Dua Jenazah 1965

Avatar photo

- Penulis Berita

Selasa, 14 Oktober 2025 - 22:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Misteri Foto Tersembunyi Ungkap Fakta Pawai PKI dan Dua Jenazah 1965

Misteri Foto Tersembunyi Ungkap Fakta Pawai PKI dan Dua Jenazah 1965

Peristiwa kelam 1965 kini telah mencapai usia enam dekade. Berbagai penelitian terus bermunculan, berusaha menyajikan analisis dan perspektif yang melawan narasi tunggal pemerintah Orde Baru. Dalam sebuah buku terbaru tentang tragedi tersebut, dua akademisi terkemuka, Geoffrey Robinson dan Douglas Kammen, menempuh langkah serupa, namun dengan pendekatan yang unik: melalui medium visual. Buku berjudul Exposed: A Visual History of the Destruction of the Indonesian Left—atau yang akrab disebut Exposed—ini dijadwalkan rilis tahun ini, berisi ratusan dari ribuan foto yang diambil sepanjang awal 1960-an hingga 1970-an.

Geoffrey Robinson menuturkan bahwa foto-foto yang terkumpul merupakan “arsip sejarah penting” yang menggambarkan bagaimana dinamika politik dalam negeri kala itu berubah menjadi salah satu peristiwa genosida terburuk pada abad ke-20. “Buku ini dibuat dengan semangat untuk mengungkap apa yang telah disembunyikan, dan untuk membuka kemungkinan pemahaman sejarah yang lebih mendalam,” ucap Geoffrey kepada BBC News Indonesia. Ia melanjutkan, publikasi ini mungkin dapat juga menjadi jalan menuju “keadilan [bagi para korban].”

Beberapa foto dalam koleksi tersebut menyoroti gambaran mengerikan, seperti ratusan orang yang ditahan di Kraton Surakarta pada Desember 1965. Mereka disinyalir memiliki keterkaitan dengan PKI atau organisasi massa ‘Kiri’ lainnya. Potret lain memperlihatkan pemandangan serupa, di mana ratusan orang dikumpulkan di sebuah lapangan di Jawa Tengah setelah ditangkap militer karena dianggap bagian dari kelompok Kiri. Selain mendokumentasikan para korban 1965, Geoffrey dan Douglas juga memperoleh jepretan kamera yang menyingkap para elite di pusaran politik saat itu: militer, PKI, serta Presiden Sukarno. Salah satu foto yang paling mencolok, misalnya, memperlihatkan Ketua PKI, D.N. Aidit, yang wajahnya tertutup kain saat diringkus tentara, diduga sesaat sebelum eksekusinya di Jawa Tengah pada akhir 1965.

Douglas Kammen, akademisi yang mengajar di National University of Singapore, menjelaskan bahwa foto-foto yang berhasil mereka kumpulkan berfungsi sebagai jendela untuk melihat kembali peristiwa masa lampau. “Tentang apa yang mereka [negara dan militer] sembunyikan dan apa yang diungkap secara tidak sengaja melalui foto-foto yang ada,” paparnya.

Minimnya Visual 1965 yang Lengkap

Keterhubungan Geoffrey Robinson dengan Peristiwa 1965 bermula pada medio 1970-an, terinspirasi oleh dua senior sekaligus mentornya di Universitas Cornell, Benedict Anderson dan George Kahin. Dari mereka, Geoffrey banyak belajar mengenai Indonesia dan dinamika politiknya. Benedict Anderson, bersama Ruth McVey, menyusun riset ihwal penyebab kekacauan 1965 yang berjudul A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia, atau yang dikenal sebagai ‘Cornell Paper’. Analisis ini sempat membuat TNI murka karena menuding adanya campur tangan militer di balik peristiwa 1965, yang berujung pada pencekalan Ben Anderson untuk masuk ke Indonesia. Sementara itu, George Kahin dikenal atas bukunya Nationalism and Revolution in Indonesia (1952) dan perannya mendirikan Cornell Modern Indonesia Project (CMIP), sebuah wadah penelitian bagi para akademisi luar negeri mengenai Indonesia.

Baca Juga :  Yogya Berduka: Wisata Keraton Libur, Raja Solo Wafat

Geoffrey Robinson menyebut Indonesia sebagai “negara yang indah,” sebuah kesan yang ia dapatkan saat pertama kali menginjakkan kaki di Bali. Namun, ia kemudian menyadari bahwa di balik keindahan alamnya, Bali menyimpan “rahasia, ada peristiwa buruk yang menimpa masyarakat,” yang juga menggambarkan “betapa politik Indonesia berubah secara drastis,” ujarnya kepada BBC News Indonesia. Rahasia kelam ini kemudian ia ungkap dalam bukunya, The Dark Side of Paradise: Political Violence in Bali (1995), yang menjelaskan peran politik dalam membentuk wajah Bali, dari masa kolonial Belanda hingga Peristiwa 1965. Dalam konteks 1965, Geoffrey menulis bahwa “sekitar 5% penduduk Bali yang kurang dari dua juta jiwa [saat itu] menjadi korban pembantaian massal.” Ia menegaskan bahwa kengerian di Bali menjadi titik kelam dalam lanskap dunia modern.

Sejak saat itu, Geoffrey memusatkan perhatiannya pada Tragedi 1965 dan Indonesia. Ia berpendapat bahwa daya rusak peristiwa 1965 sangat besar, setara dengan pembantaian politik global lainnya seperti di Rwanda, Armenia, hingga Kamboja. Diperkirakan, antara 500.000 hingga 1 juta orang menjadi korban, baik dibunuh, dipenjara, maupun dihilangkan secara paksa. Usai tumbangnya kediktatoran Soeharto, berbagai upaya untuk mengungkap Peristiwa 1965 secara menyeluruh, termasuk alasannya, mulai muncul melalui penelitian, publikasi, atau film dokumenter.

Meski demikian, Geoffrey merasakan adanya kekurangan dalam upaya pengungkapan ini. “Bukti visual tentang 1965 sangat minim dan tidak lengkap,” tegasnya. Menurutnya, hal ini telah “berkontribusi pada pengetahuan soal 1965 itu sendiri yang relatif rendah di kalangan umum,” dan di sisi lain, “kesalahpahaman atas peristiwa ini juga sering ditemukan.” Oleh karena itu, niat untuk menghadirkan dimensi “baru” pada Peristiwa 1965 melalui “sejarah visual” pun menguat dalam benaknya. Bersama Douglas Kammen, Geoffrey memulai proyek Exposed pada sekitar tahun 2017. Mereka membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menuntaskan kerja-kerja pengarsipan visual tersebut. Foto-foto diperoleh dari beragam sumber, mulai dari pemerintah, militer, jurnalis lokal dan internasional, media massa, organisasi sipil, hingga seniman. Proyek ini membagi linimasa menjadi tiga fokus: sebelum 1965, saat 1965, serta setelah 1965.

Masing-masing sumber foto memiliki karakteristik yang berbeda. Geoffrey mencontohkan foto-foto yang berasal dari lemari penyimpanan negara atau militer memiliki beberapa pola. Pertama, foto-foto 1965 yang dirilis TNI umumnya menggambarkan korban sebagai pengkhianat dan tanpa wajah, sementara pelaku—negara, militer, serta ormas—dibingkai sebagai pahlawan yang mempertahankan hukum dan ketertiban. Kedua, gambar resmi mengenai 1965, menurut Geoffrey, hampir tidak pernah memperlihatkan kekerasan yang meluas dan ekstrem oleh pelaku utama—tentara dan sekutu sipil. Ketiga, dalam banyak foto, tentara serta aliansinya berpose dengan sombong, seolah-olah menandai atau memperingati kemenangan yang kelak dinikmati generasi mendatang. “Sebaliknya, sebagian besar tahanan politik tampak putus asa, lesu, dan kalah. Mungkin karena mereka tidak melihat jalan keluar, atau mungkin karena mereka telah diperingatkan oleh tentara untuk tidak mengungkapkan emosi mereka,” tandas Geoffrey.

Baca Juga :  Gentle Parenting: Rahasia Membesarkan Anak Bahagia Menurut Pakar

Tangkapan Foto 1965: Dari Tahanan Hingga Pawai PKI

Geoffrey menerangkan salah satu fotografer lokal yang banyak menyumbangkan foto mengenai 1965 adalah Moelyono. Pada tahun 1960-an, Moelyono bekerja untuk surat kabar Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta. Ketika 1965 pecah, Moelyono direkrut oleh militer untuk mengabadikan foto-foto dalam operasi “penumpasan PKI.” Hasil jepretan kamera Moelyono memperlihatkan jenazah dua anak laki-laki yang terbaring tengkurap di lumpur. Foto tersebut dibuat saat Moelyono turut serta dalam rombongan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang tengah menghabisi orang-orang “Kiri” di Jawa Tengah pada akhir 1965.

Puluhan tahun kemudian, Moelyono bercerita kepada antropolog asal AS, Karen Strassler, bahwa tentara memberlakukan batasan ketat terhadap apa yang boleh ia foto dan gambar mana yang akhirnya dipublikasikan. Yang terpenting, Moelyono menyampaikan kepada Karen bahwa kamera dilarang memotret kekerasan yang dilakukan oleh tentara. “Moelyono juga diminta untuk tidak menunjukkan wajah anggota PKI atau yang terhubung dengan PKI yang sudah tewas. Sehingga ini cukup membantu menjelaskan posisi aneh dalam foto mayat tersebut,” papar Geoffrey.

Geoffrey dan Douglas mengakui bahwa mereka hanya menemukan sedikit foto bernuansa kekerasan eksplisit—yang berujung hilangnya nyawa, misalnya. Potret lokasi pembantaian massal pun hampir tidak tersedia. Kondisi ini tercipta karena, sekali lagi, militer memegang kendali penuh atas distribusi informasi pada 1965. Secara garis besar, foto-foto yang dihasilkan pada periode 1965-1967 merupakan bentuk bagaimana militer membangun propaganda secara terstruktur melalui Pusat Penerangan Angkatan Darat. Pesan yang ingin disampaikan ke publik adalah penegasan betapa bengis dan jahatnya PKI beserta anggota maupun simpatisannya. “Ada satu foto yang setelah kami telusuri diambil pada [Peristiwa] Madiun 1948, ketika tentara dan PKI berkonflik. Foto korban kekerasan 1948 itu disebarluaskan lagi oleh militer Indonesia untuk membingkai bahwa PKI brutal dan pengkhianat,” Geoffrey memberi tahu BBC News Indonesia.

Sejak awal, Geoffrey melanjutkan, militer sengaja menciptakan narasi palsu terhadap orang-orang “PKI.” Ketika tujuan itu berhasil, dalam arti publik terpengaruh secara emosi, militer dengan cepat merebut ruang yang kosong dengan menanamkan propaganda baru ke ingatan kolektif masyarakat. “PKI itu kejam, dan tentara adalah pahlawan yang menyelamatkan [Indonesia],” imbuh Geoffrey.

Baca Juga :  MBG & Cek Gratis Dikritik CISDI: Apa Dampaknya bagi Kesehatan?

Meskipun sebagian besar visual mengenai 1965 dimaksudkan untuk mempertebal otoritas militer, Geoffrey dan Douglas berpendapat bahwa foto-foto yang mereka kumpulkan juga secara tidak sengaja memperlihatkan kekerasan sistematis terhadap orang-orang yang dituduh PKI. Salah satu foto, misalnya, menunjukkan seorang pejabat militer lokal berbicara di hadapan kerumunan orang di Purwodadi, Jawa Tengah. Orang-orang dalam foto tersebut memegang senjata—bambu runcing—serta dikelilingi tentara yang membawa senapan. Kerumunan itu merupakan bagian dari kelompok milisi yang digandeng tentara untuk menumpas orang-orang komunis. Pada foto lain, ratusan orang, termasuk anak kecil dan laki-laki dewasa, ditempatkan dalam posisi duduk di sebuah lapangan di desa di Jawa Tengah, diawasi oleh anggota milisi lokal yang menenteng bambu runcing. Tidak jauh berbeda dengan dua foto di atas, sebuah foto lain menggambarkan tahanan dikumpulkan di balai desa di Klaten, Jawa Tengah, dengan militer dan masyarakat lokal berdiri di samping mereka seolah mengawasi gerak-gerik para tahanan.

“Selain [foto kekerasan dan tahanan] itu, ada satu foto yang benar-benar menarik perhatian saya,” ujar Geoffrey. Foto itu adalah “foto pawai PKI di Yogyakarta,” yang diambil “sebelum [Peristiwa] 1965 [pecah].” Ia melanjutkan, “Dan foto ini juga dapat memberikan semacam refleksi atas propaganda militer terhadap PKI.” Dalam foto yang dituturkan Geoffrey, diambil oleh Moelyono sekitar 1965, sekelompok anak muda terlihat menikmati acara pawai yang diselenggarakan PKI di alun-alun Kraton Yogyakarta. Beberapa bahkan mengarahkan pandangan langsung ke arah kamera dan tertangkap mengeluarkan senyum.

Geoffrey menyatakan tidak semua foto berhasil dikumpulkan, seperti penyiksaan tahanan, kekerasan seksual, atau saat korban 1965 diangkut untuk dibantai di suatu lokasi. Namun, sebagai sejarawan, Geoffrey percaya bahwa foto-foto yang dia peroleh bersama Douglas dapat membuka bagian dari masa lalu yang selama ini disembunyikan. Foto-foto tersebut, ia menuturkan, memberikan analisis mengenai babak penting dalam sejarah kelam yang berlangsung relatif singkat, dari 1965 sampai 1967. “Kami percaya ketika ditempatkan dalam konteks yang tepat dan dengan memperlihatkan kondisi produksinya, baik itu secara politik atau sosial, gambar-gambar ini dapat mengingatkan kita pada hal-hal yang telah diabaikan dalam narasi konvensional,” sebut Geoffrey.

Douglas Kammen menyimpan asa bahwa foto-foto yang tersusun dalam Exposed mampu mengisi celah sejarah 1965 yang masih tersedia. Ia menggarisbawahi harapan besar agar Exposed “menantang narasi resmi yang telah membentuk ingatan sosial masyarakat di Indonesia.” Douglas memungkasi, “Kami menginginkan foto dan gambar ini ditempatkan dalam konteks sejarah agar kelak interpretasi baru dapat terbentuk setelah lebih dari setengah abad propaganda pemerintah bergerak [memberi pengaruh] ke masyarakat dan politik, bahkan sampai saat ini.”

Berita Terkait

Kenaikan Premi Asuransi Kesehatan Premium 2026, Apa yang Perlu Diketahui Nasabah?
Strategi Investasi Saham Blue Chip untuk Menghadapi Volatilitas Pasar Global 2026
Panduan Lengkap Asuransi Penyewa di Ohio, Lindungi Aset dan Ketenangan Anda
Resep Ayam Goreng Mentega: Ekspresikan Dirimu di Dapur!
Yogya Berduka: Wisata Keraton Libur, Raja Solo Wafat
Beras Premium Befood Sentra Ramos Hadir dengan Kemasan Baru!
Ketahanan Pangan: TNI AD Garap Ribuan Hektare Lahan Pertanian
Pangeran Andrew Jatuh: Kemenangan Virginia Giuffre Mengguncang Kerajaan

Berita Terkait

Minggu, 28 Desember 2025 - 18:24 WIB

Kenaikan Premi Asuransi Kesehatan Premium 2026, Apa yang Perlu Diketahui Nasabah?

Minggu, 28 Desember 2025 - 18:22 WIB

Strategi Investasi Saham Blue Chip untuk Menghadapi Volatilitas Pasar Global 2026

Minggu, 28 Desember 2025 - 18:22 WIB

Panduan Lengkap Asuransi Penyewa di Ohio, Lindungi Aset dan Ketenangan Anda

Senin, 3 November 2025 - 21:11 WIB

Resep Ayam Goreng Mentega: Ekspresikan Dirimu di Dapur!

Minggu, 2 November 2025 - 23:33 WIB

Yogya Berduka: Wisata Keraton Libur, Raja Solo Wafat

Berita Terbaru

Warning! This link is a trap for bad bots! Do not follow this link or you're IP adress will be banned from the site!