Presiden Como asal Indonesia, Mirwan Suwarso, baru-baru ini menanggapi spekulasi seputar potensi klubnya lolos ke kompetisi Eropa musim depan, menyusul performa impresif tim di Liga Italia. Klub yang dimiliki oleh Grup Djarum dari Keluarga Hartono ini memang tengah menjadi sorotan, menunjukkan taji di Serie A.
Setelah pekan kesepuluh, I Lariani berhasil menduduki peringkat ketujuh klasemen sementara dengan koleksi 17 poin. Posisi tersebut, meskipun tidak di puncak, menunjukkan persaingan ketat di papan atas, dengan Como hanya terpaut lima poin dari pemuncak klasemen, Napoli yang mengoleksi 22 poin.
Bahkan, jarak mereka dengan zona empat besar yang menjanjikan tiket Liga Champions di akhir musim hanya terpaut empat angka. Kegemilangan Como semakin terpancar dari catatan awal musim ini, di mana mereka menjadi salah satu dari sedikit kontestan yang paling minim menelan kekalahan. Bersama AC Milan dan Atalanta, Como baru merasakan satu kekalahan sepanjang kompetisi Liga Italia musim ini.
Tak heran, banyak pengamat sepak bola Italia, atau calcio, mulai menjagokan I Lariani untuk melampaui pencapaian musim lalu yang finis di peringkat ketujuh. Marco Rossi, mantan pemain di beberapa klub Liga Italia yang kini menukangi timnas Hungaria, menuturkan, “Como adalah tim yang sulit dihadapi untuk siapa pun. Mereka terbentuk dari pemain muda dan bertalenta.”
Rossi menambahkan, “Sejauh ini mereka tampil sesuai ekspektasi, sebagian karena klub berinvestasi sangat besar. Mungkin pengeluarannya lebih dari beberapa klub besar. Mereka tentu saja bukan Cinderella di Serie A.” Ia juga memprediksi, “Bersama Bologna, menurut saya, mereka dapat bersaing untuk merebut satu tempat di kompetisi Eropa.”
Istilah “bukan Cinderella” yang diungkapkan Rossi bukan sekadar kiasan kosong. Hal itu secara gamblang merujuk pada strategi investasi masif yang dilakukan Grup Djarum. Dana segar yang digelontorkan bukan hanya untuk mendongkrak performa secara instan, melainkan juga untuk membangun fondasi kuat dan jangka panjang sesuai filosofi yang diusung oleh Cesc Fabregas. Langkah ini menunjukkan ambisi nyata untuk menempatkan Como sebagai kekuatan yang diperhitungkan di kasta tertinggi Liga Italia, bukan sekadar tim promosi yang berjuang dengan keterbatasan.
Mengacu pada pernyataan Rossi, istilah “bukan Cinderella” memang sangat relevan. Como bukanlah tim kecil yang tiba-tiba bersinar dengan bujet terbatas. Sejak promosi kembali ke Serie A, I Lariani telah menggelontorkan dana sebesar 205,15 juta euro—setara 3,9 triliun rupiah—untuk belanja pemain dalam tiga periode jendela transfer. Angka fantastis ini menjadikan mereka sebagai klub dengan pengeluaran tertinggi kelima di Liga Italia, bahkan melampaui tim-tim mapan seperti Inter Milan dan AS Roma.
Data dari Transfermarkt juga mencatat Como sebagai pemilik defisit terbesar dalam neraca transfer, mencapai minus 187,6 juta euro selama periode tersebut. Menanggapi derasnya spekulasi mengenai kans klubnya melaju ke kompetisi Eropa, Mirwan Suwarso memberikan tanggapan yang lugas namun hati-hati. “Apakah kami yakin dengan (peluang lolos) kompetisi Eropa? Masih terlalu dini,” tuturnya, seperti dikutip KanalHarian.com dari Sportmediaset. Ia menambahkan, “Mari jalani pertandingan satu demi satu.”
Peluang bagi anak asuh Cesc Fabregas untuk terus mengumpulkan poin maksimal terbentang luas sepanjang bulan ini. Dalam tiga pertandingan mendatang, Como akan menghadapi lawan-lawan yang secara teori dapat mereka taklukkan: Cagliari, Torino, dan Sassuolo. Di sisi lain, beberapa tim pesaing di papan atas dijadwalkan melakoni laga-laga berat. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin kita akan menyaksikan Nico Paz dan rekan-rekannya menduduki posisi teratas pada akhir November ini.






