Pembalap andalan Yamaha di ajang MotoGP, Fabio Quartararo, telah memberikan isyarat kuat bahwa kontraknya saat ini merupakan kesempatan terakhir bagi pabrikan berlogo garpu tala tersebut untuk membuktikan kemampuan mereka. Situasi ini muncul di tengah periode sulit yang dialami Yamaha dalam beberapa musim terakhir.
Setelah mencapai puncak kejayaan dengan membantu Quartararo meraih gelar juara dunia pada tahun 2021, performa Yamaha justru mengalami penurunan signifikan. Mereka bahkan menerima hak konsesi khusus guna mempercepat pengembangan motor dan mengejar ketertinggalan dari dominasi tim-tim Eropa, terutama Ducati. Meskipun upaya keras telah menunjukkan beberapa hasil positif, konsistensi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pabrikan asal Jepang tersebut.
Quartararo sendiri, meski beberapa kali mampu tampil impresif di sesi kualifikasi dengan meraih pole position, kerap menghadapi kesulitan serius saat balapan utama. Performa yang tidak stabil ini mencerminkan celah antara kecepatan satu putaran dan daya saing di sepanjang balapan. Sejauh musim berjalan, pembalap asal Prancis itu baru berhasil meraih satu podium, yakni finis di posisi kedua pada seri MotoGP Spanyol 2025.
Di tengah situasi yang masih penuh tantangan ini, Quartararo tidak dapat menyembunyikan rasa lelahnya. Ia secara gamblang mengindikasikan bahwa kontrak yang sedang berjalan adalah kesempatan terakhir yang diberikannya kepada Yamaha. Apabila performa tim tidak menunjukkan peningkatan substansial, bukan tidak mungkin Quartararo akan mencari opsi lain di luar Yamaha.
Ia menuturkan bahwa pada tahun 2022, dirinya hampir saja memutuskan untuk pergi. “Tapi saya baru saja memenangkan Kejuaraan Dunia, saya memimpin klasemen, dan saya percaya pada apa yang saya lihat untuk tahun-tahun mendatang. Kepercayaan itu adalah kesempatan terakhir saya bersama mereka,” akunya.
Tekanan besar kini menumpuk di pundak tim Yamaha, yang harus berlomba dengan waktu demi memenuhi ekspektasi pembalap bintang mereka. Langkah konsesi yang diberikan Dorna Sports sejatinya menjadi angin segar untuk mempercepat pengembangan motor, namun kemajuan yang belum konsisten justru memicu ketidakpastian di benak Quartararo. Ia bukan hanya seorang pembalap, melainkan seorang juara dunia yang mendambakan podium teratas secara reguler, sebuah ambisi yang sulit dikompromikan dengan kondisi tim saat ini.
Pembalap berjuluk El Diablo itu menambahkan harapannya agar apa yang belum dicapai Yamaha dalam bertahun-tahun dapat mereka wujudkan dalam beberapa bulan ke depan. “Saya tidak punya banyak waktu untuk mewujudkan impian saya. Mereka tahu itu, dan saya juga tahu,” tegasnya.
Meski saat ini belum berbicara dengan tim lain, Quartararo mengungkapkan bahwa ia mulai mempertimbangkan berbagai pilihan. “Saat ini saya tidak berbicara dengan siapa pun, tapi saya memikirkannya. Saya tidak ingin ketinggalan sementara orang lain sudah bertindak,” terangnya. Di sisi lain, ia merasakan bahwa waktu seolah tidak berpihak padanya, namun ia menegaskan kembali keinginannya yang kuat untuk meraih kemenangan lagi.






