Hanya berselang sembilan hari setelah didepak dari kursi pelatih Timnas Thailand, Masatada Ishii, juru taktik berpengalaman asal Jepang, secara mengejutkan langsung mendapatkan pekerjaan baru. BG Pathum United, salah satu klub raksasa Liga Thailand, secara resmi mengumumkan penunjukan Ishii sebagai pelatih kepala mereka pada Kamis, 30 Oktober 2025. Langkah cepat ini menandai akhir singkat masa menganggur bagi Ishii, menyusul pemutusan kontraknya oleh Asosiasi Sepak Bola Thailand (FAT) pada Selasa, 21 Oktober 2025.
FAT menuturkan bahwa keputusan untuk mengakhiri kerja sama dengan Ishii, yang telah menukangi Tim Gajah Perang sejak akhir tahun 2023, didasari oleh perbedaan filosofi. Federasi menjelaskan bahwa gaya kepelatihan Ishii dinilai tidak lagi sejalan dengan visi jangka panjang yang mereka impikan. Selama memimpin Timnas Thailand, Ishii mencatatkan rekor yang terbilang cukup baik, dengan memenangkan 16 dari total 30 pertandingan, menghasilkan rasio kemenangan sekitar 53 persen. Puncak prestasinya adalah membawa skuad Gajah Perang melaju hingga babak 16 besar Piala Asia 2023 yang digelar di Qatar.
Namun, di balik catatan positif tersebut, beberapa faktor turut memengaruhi keputusan FAT. Isu mengenai pengabaian pemain-pemain lokal yang sedang dalam performa puncak santer beredar. Selain itu, serangkaian hasil minor dalam beberapa turnamen terakhir juga menjadi sorotan. Kegagalan di ASEAN Cup 2024 dan Piala Raja 2025, serta kekalahan 1-3 dari Turkmenistan yang berpotensi memengaruhi peluang lolos ke Piala Asia 2027, agaknya menjadi pertimbangan serius bagi federasi.
Keputusan FAT ini sontak menggemparkan publik sepak bola Thailand. Banyak penggemar menyuarakan kekecewaan dan bahkan muncul rencana untuk memboikot pertandingan Timnas Thailand. Kebingungan publik semakin memuncak mengingat pemecatan Ishii justru terjadi setelah Thailand sukses meraih dua kemenangan atas Taiwan dalam Kualifikasi Piala Asia 2027.
Keputusan FAT untuk melepas Ishii, terlepas dari catatan prestasinya yang tidak buruk, mengindikasikan adanya ketegangan yang lebih dalam antara federasi dan sang pelatih. Di tengah tuntutan tinggi dari publik dan federasi untuk meraih gelar, hasil minor dalam turnamen krusial, ditambah isu mengenai prioritas pemain, seolah menjadi akumulasi yang tak terhindarkan bagi masa depan Ishii di kursi kepelatihan Gajah Perang. Hal ini mencerminkan dinamika kompleks dalam sepak bola modern, di mana ekspektasi seringkali melampaui statistik semata.
Pengumuman penunjukan Ishii sebagai nahkoda BG Pathum United disampaikan secara resmi melalui berbagai kanal media sosial klub. “Klub BG Pathum United secara resmi mengumumkan penunjukan Masatada Ishii untuk menjabat sebagai pelatih kepala baru klub,” demikian bunyi pernyataan resmi dari klub tersebut. Manajemen klub menaruh harapan besar pada Ishii untuk mendongkrak performa Chanathip Songkrasin dkk, mengingat BG Pathum United saat ini menduduki posisi kelima dalam klasemen sementara Liga Thailand.
Kembalinya Ishii ke kancah Liga Thailand tidaklah asing. Ia telah meninggalkan jejak panjang di sepak bola Negeri Gajah Putih sejak tahun 2019. Pada musim perdananya bersama Samut Prakan City, Ishii berhasil membawa tim tersebut finis di posisi keenam. Puncak kejayaannya di Thailand datang saat ia menjabat sebagai arsitek Buriram United dari tahun 2021 hingga 2023, di mana ia sukses mempersembahkan enam trofi bergengsi, meliputi dua gelar juara Liga Thailand, dua Piala Liga Thailand, dan dua Piala Revo. Sebelum berkiprah di Thailand, Ishii juga dikenal luas di tanah kelahirannya, Jepang, berkat pengalamannya yang kaya. Ia sukses meraih beberapa gelar domestik bersama Kashima Antlers dan bahkan membawa klub tersebut mencapai posisi runner-up di Piala Dunia Antarklub 2016. Dengan rekam jejak yang solid, kehadiran Ishii di BG Pathum United diharapkan mampu membawa angin segar dan mengembalikan performa tim ke jalur juara.






