
Perang kata-kata yang memanas antara pelatih Juventus, Igor Tudor, dan manajer Como, Cesc Fabregas, disinyalir dapat mempercepat pemecatan Tudor dari kursi kepelatihan Si Nyonya Tua. Kekalahan mengejutkan Juventus dari klub milik konglomerat Indonesia tersebut bukan hanya sekadar hasil di lapangan, melainkan memicu efek berantai yang kini membayangi nasib Tudor, khususnya menjelang duel Como vs Juventus di pekan ketujuh Liga Italia pada Minggu (19/10/2025).

Konflik ini mulai mencuat ke publik saat Igor Tudor, dalam jumpa pers, menyoroti kebijakan transfer mewah Como di bawah arahan Fabregas. “Apakah Como telah berinvestasi seperti kami? Saya tidak terlalu peduli dengan pengeluaran transfer,” ucap Tudor, seperti dikutip dari Gazzetta.it. Ia kemudian menegaskan, “Como adalah tim kecil yang palsu, mereka telah berinvestasi banyak. Semua pemain dipilih oleh pelatihnya sendiri, di mana itu merupakan hal yang baik. Juventus harus selalu menang, dan itu wajar, dan ketika mereka tidak menang, banyak orang berpikir saya selalu salah.” Komentar kontroversial ini menyulut tanggapan Fabregas.
Tak tinggal diam, Fabregas merespons 24 jam kemudian, membantah pernyataan Tudor. “Tudor mengatakan saya merekrut pemain yang saya inginkan, tapi mungkin mereka tidak menjelaskan hal-hal kepadanya dengan benar,” ujar mantan kapten Arsenal itu. Fabregas melanjutkan dengan sindiran halus, “Dia memanggil saya ‘pelatih Como,’ tapi saya, dengan hormat, memanggilnya Mister Tudor. Dia harus selalu menang dengan Juventus, bukan kami; kami memiliki pekerjaan yang berbeda.” Ketika ditanya mengenai reaksi Fabregas, Tudor hanya menuturkan secara singkat, “Fabregas bisa mengatakan apa pun yang dia inginkan.”
Pernyataan sinis Tudor kemudian ditafsirkan sebagai ekspresi rasa iri sekaligus kritik terselubung terhadap manajemen Juventus. Fabregas, sebagai manajer Como, disebut memiliki keleluasaan dalam menentukan pemain yang ingin direkrut, berkat dukungan dana melimpah dari Grup Djarum. Sejak Como promosi ke Serie A pada musim 2024-2025, Grup Djarum telah mengucurkan dana sebesar 205,15 juta euro untuk belanja pemain, guna membentuk tim sesuai visi pelatihnya.
Angka ini, meski masih di bawah Juventus yang mencapai 338,7 juta euro, tergolong fantastis untuk klub yang baru kembali ke kasta teratas. Pengeluaran I Lariani bahkan melampaui klub-klub elite lain seperti Roma (190,57 juta euro) dan Inter Milan (169,9 juta euro). Kondisi ini jelas berbanding terbalik dengan pengalaman Tudor di Juventus, di mana ia tidak dapat bertindak sebebas Fabregas dalam urusan transfer pemain. Keputusan perekrutan pemain harus melalui fase ‘penyaringan’ dan sangat bergantung pada persetujuan jajaran manajemen.
Kondisi inilah yang kerap memicu konflik kepentingan antara pelatih dan hierarki klub, yang tak jarang berujung pada pemutusan hubungan kerja. Dalam kasus Tudor, ketidakpuasan publik yang ia lontarkan melalui kritik terhadap Como, diduga kuat mencerminkan disharmoni internal dengan Manajer Umum Juventus, Damien Comolli. Comolli merupakan sosok yang mengukuhkan posisi Tudor sebagai pelatih permanen Juventus setelah Thiago Motta dipecat Maret lalu. Namun, belakangan terkuak rumor bahwa Tudor sejatinya adalah opsi kedua, setelah klub gagal memulangkan Antonio Conte yang akhirnya direbut Napoli.
Tuduhan bahwa Tudor hanyalah pilihan kedua, ditambah dengan sejumlah keputusan transfer yang tidak sejalan dengan keinginannya, menempatkan sang pelatih dalam posisi dilematis. Sebagai contoh, Tudor dikabarkan meminta Juventus untuk mempertahankan Randal Kolo Muani, tetapi klub menolaknya dan justru memilih merekrut Lois Openda. Hal serupa terjadi pada transfer Joao Mario dan Edon Zhegrova, di mana ketiga pemain tersebut akhirnya sangat jarang mendapat kesempatan bermain. Ketidakselarasan semacam ini, antara visi pelatih dan keputusan petinggi klub, lazimnya berakhir dengan pemutusan hubungan kerja.
Maka, setelah secara tidak langsung mengungkapkan kekesalannya kepada petinggi klub melalui kritik terhadap Como, bayang-bayang serupa kini mengancam Tudor. Situasi diperparah oleh performa buruk tim yang tidak pernah meraih kemenangan dalam enam pertandingan terakhir. Tuttosport melaporkan bahwa manajemen Juventus masih memberikan waktu hingga jeda internasional November mendatang, untuk melihat respons dan kebangkitan tim. Ini berarti, anggota timnas Kroasia peraih medali perunggu Piala Dunia 1998 itu hanya memiliki enam pertandingan lagi untuk menyelamatkan kariernya. Kenan Yildiz cs secara beruntun akan menghadapi Real Madrid, Lazio, Udinese, Cremonese, Sporting CP, dan Torino, dalam laga-laga penentu nasib sang pelatih.






